Kamis, 09 Desember 2021

#puisi : Di berkas Separuh Perjuangan 2014

 

Disuatu Tempat

 

Di suatu tempat  yang sering ia kunjungi

Puisi dan prosa tak pernah rampung

Disudut malam

Di sana ia duduk mengobrol dengan sepi

 

Menunggu entah

Mengetuk pintu, berbicara masa lalu

Atau sekadar minum kopi

Selagi hujan di luar

 

Jalan raya riuh kenangan

Dalam dirinya

Jantung adalah sepeda motor

Yang berlarian di ruas luka dalam dada

 

Matanya meloncat-loncat

Mencari hilang yang mungkin datang

Mengucap salam

 

Tiba-tiba dia dan hujan kedinginan

Diantra sepi yang deras

Juga parade cahaya dari masa silam

Menjelma kata-kata yang tak juga ia mengerti

 

Sampai akhirnya ia putuskan

Di suatu tempat yang biasa

Hanya diam tanpa puisi atau prosa

Sebagai buah yang dapat dipetik dari pohon penantian

 

2014

 

Epigram

 

1

Sebab hatimu adalah lautan

Dengan ombak yang selalu tiba-tiba

Aku bersiap menyelaminya

Sebagai palika: memburu nasib baik

Kemudian memilih doa sebagi tempat kembali

 

2

Selepas kau membentuk jarak

Serupa danau, kemudian laut

kemudian bermacam doa berlayar disana

Sebab hatimu adalah pulau yang kutuju

Doa-doa perahu yang mengantarku

 

3

Semisal Rendra memperjuangkan kata-kata

Maka aku ‘kan bertanggungjawab

Atas apa yang sempat kukatakan:

 

2014

 

Pada Suatu Malam 1

 

Pada suatu malam kabar tentangmu datang

Begitu saja seperti cerita seorang nenek pada cucuknya

Yang tak mau masuk rumah ketika langit memerah

Dan lembayung sangat indah

 

Sebagai seorang lelaki nakal yang matanya mudah pecah

Aku masuk kamar sambil terus menerbangkan

Kunang-kunang dari kepalaku menujumu

Tanpa ada orang yang tahu

Bahkan dirimu sendiri

 2014

 

Pertanda

 1

Malam itu

Di luar hujan  

Tiba-tiba pigura jatuh

Sebab beban atau karena sebuah firasat

 

Sementara kau berkirim pesan

Lewat basah dan pecah kaca:

Ada basah pada ranum buah pipimu

Oh ternyata matamu ikut pecah

 

Entah untuk alasan apa

 

2

Sore tadi

Burung-burung bergegas pulang

Sebelum awan benar-benar pecah

Bahkan di cermin kamarmu

 

3

Suatu pagi

Jarum yang dipegang dengan tenang

Menyulam jarak pada kain kerinduan

Tiba-tiba sangat ganas

Ia turih ibu jari yang sedari tadi

Mengatur anak-anaknya yang tampak semangat

Menberi jalan pada serat cintamu

 

2014

 

 

Di Situ Buled

 

Di Situ Buled

Tak ada yang menyapaku

Orang-orang adalah patung gagah di tengah danau

Tak acuh pada pelancong, pedagang balon

Juga ikan mas yang berdoa dan hidup di bawanya

 

Sebenarnya

Aku patung juga

Berlutut

Menahan senja 

 

ketika

Setiap gang yang tak aku kenal

Berlari tanpa memberiku arah

Bahkan untuk pulang

2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar