11 januari 2020
Hari itu pertemuan
keduaku mewakili Bob Anwar dalam RecVolution. Kali ini secara mental bisa dikatakan
aku lebih siap, sudah ada empirisitas ruang di minggu sebelumnya. Minggu lalu
diberikan informasi jika pertemuan selanjutnya kami sudah mulai berlatih secara
individu atau kelompok yang terdaftar.
Sialnya, menjelang
pukul 11.00 dua temanku memberi kabar, mereka tidak bisa hadir, dengan
alasannya masing-masing. Yang penting aku sudah siap, apa pun masalahnya kami
(Bob Anwar) masih bisa berdiakusi via WAG selama proses nanti di kelas. Kali
ini aku membawa gitar, “biar kaya Dencas”. Kali itu aku tidak terlambat, kelas
belum dimulai setalah kami (aku pergi bersama Jundung dana gung) sampai di
Rumah Komuji. Masih bisa kami habiskan sebatang keretek sampai Kang Panji
mebuka kelas pertemuan keempat RecVolution.
**
Kelas dimulai. Setelah
dua kawan (tiga orang sebernanya tapi aku anggap dua, sebab salah satunya grup
duo) membawakan karya mereka sebagi pembuka. Selesai 2 penampilan itu, kang
Panji mengambil kembali forum. Ternyata informasi minggu lalu salah, pertemuan
kali ini, kami masih akan berlatih dengan kelompok acak (syukurlah, tak jadi
kesepian). Kelas dibuka dengan pengantar dari Mentor, menggiring kami-peserta
untuk dapat mengkritisi syair lagu. Sesaat kemudian, kami diperdengarkan
penggalan lagu Roman Picisan Dewa19. Sebelum memutar lagu, kang Panji memberi
petunjuk, ada kesalahan dalam syairnya.
Aku pikir,
kesalahannya pasti soal pemilihan frasa “busur panah”. Dugaanku tepat, setelah
di lempar ke forum untuk mulai mengkritisi, nona jangkung dengan rambut bob,
belakangan aku tahu namanya Pelle, mengkritisi sola itu. Hal itu langusng
diiyakan oleh mentor. Masalah dalam lagu adalah penggunaan farasa busur panah
yang mungkin sebenarnya penulis bermaksud pada anak panah yang dapat least dan
menancap. Entah lah, ini timbul dari keluputan atau ketidak tahuan, hanya Tuhan
dan penulisnya yang tahu.
Selesai di situ kami
diperdengarkan lagi sebuah lagu, kali ini milik Nissan Fortz, Sore Sebelum Hujan.
Petunjuk yang diberikan adalah, ada hal yang tidak konsisten. Kami di
perdengarkan lagu itu lebih panjang dari lagu sebelumnya. Karena lagu yang
terbilang baru dan belum akrab, meski pempat beberapakali lewat ketika suffle
di Spotify, aku merasa penting untuk mencari syair lagu itu di Google.
Setelah 2-3 kali aku
baca, aku menemukan beberapa hal yang mungkin dimaksud tidak konsisten. Ada
logika peristiwa yang di bangun yang bisa di kritisi. Hal lainnya adalah subjek
dalam penggunaan sudut pandang dan aku lirik. Dalam bait-bait awal aku lirik
dalam syair memosisikan pendengar/pembaca sebagai orang kedua dengan penggunaan
diksi aku, kau dan kita dalam lariknya: … Di
sepanjang jalan kau tersenyum/Dan bilang mama papa tak mencarimu/Karena kau
denganku … yang kemudian menjadi masalah dan terjadi kerancuan dalam logika
bahasanya adalah pada bagian Reff : … Aku
dan kamu bercerita lama-lama/Sore sebelum hujan/Aku dan kamu duduk
berdua/Ungkapkan isi hatinya … penggunaan kata ganti –nya dalam larik
terakhir menjadi rancu sebab sejak awal tak ada orang ketiga dalam lagu. Syair
disusun sangan intim bercerita sepasang kekasih (aku dank kau) yang tengah
berkencan.
Entahlah … sesi ini
begitu menggairahkan bagiku. Belakangan, aku dan beberapa teman sering diresahkan
oleh lirik-lirik lagu yang memiliki masalah kebahasaan. masalah lebih rumit
dari kedua contoh yang dilempar kang panji waktu itu. Banyak sekali lagu
bersyair gelap, dan kerap mengganggu. Kami sering menyayangkan lagu-lagu yang
indah dan sering kami nyanyikan kala senggang sambil gigitaran harus terhenti ketika larik syairnya membuat kami
berpikir keras dengan bannyaknya logika Bahasa yang tidak selesai. Nauzubullahhimindalik … bukan kami
merasa bisa dan paling benar, kami juga sadar bahwa membuat syair lagu memiliki
kerumitan lain jika di banding dengan menulis puisi atau prosa. Ada metrum yang
harus dipertimbangkan dengn nada yang ada bukan hal ringan. Tidak berarti salah
atau tak baik menulis syair yang gelap dan tersembunyi, tentu pebulis memiliki
maksud lain dalam penciptaanya. Mungkin ini hanya masalah selera yang tak bijak
jiga menjadi perdebatan. “Aku hanya suka lotek, dengan berbagai realisasinya,
kalau kamu tak suka tentu saja kamu punya alasan yang logis dan sama-sama harus
kita terima menjadi kekayaan.”
Bersama Bob Anwar,
kami sering berdebat ketika mencoba membuat syair lagu sendiri. Banyak yang
akhirnya tak terselasaikan gara-gara tidak menemukan padanan kata yang sanggup
mewakili apa yang ingin kami sampaikan dengan nada yang kami miliki.
**
Setelah itu, seperti
minggulalu, kami dibagi kedalam lima kelompok kemudian berlatih mebuat syair
yang “logis”. Tiap kelompok menyumbangkan sebuah kalimat maksimal 12 suku kata,
dengan tema Persaudaraan. Dari lima kelompok hanya berhasil membangun tiga larik
di awal, kemudian kami stuck. Banyak yang memberi tawaran, tapi dianggap masih
kurang mantap. Akhirnya mentor, merangkum semua masukan menjadi beberapa bait
yang cukup asik. Mulailah kami diberi 30 menit untuk mebuat lagu dari syair
yang dibuat secara kolektif itu.
30 menit selesai,
saatnya presentasi. Hasilnya tak jauh dengan minggu lalu, masing-masing
kelompok membawakan karya terbaiknya. Karya yang dibuat hanya kuarng lebih 30
menit dengan syair yang sama, namun akhirnya memiliki kekhasan dan sangat berbeda
antara satu dan lainnya. Tiap kelompok memiliki sentuhan berbeda, mungkin ini
didorong kecenderuangan musik yang bisa mereka mainkan. Kelompok kami
presentasi terakhir dan setelah itu kelas akan di akhiri.
Sebelum benar-benar
kelas selesai, Mang Daus memantik diskusi. Poin utamanya adalah soal perbedaan,
menyikapi keberagaman, dan semangat kebersamaan. Kali ini benar-benar terjadi
diskusi cukup hangat antara pemantik dan peserta. Aku tak banyak bicara,
menyimak lebih menarik tiba-tiba kurasa sore itu. Selain itu, tiba-tiba kami
diingatkan kalau forum ini merupakan kompetisi. Demi apa pun aku hampir lupa,
sebab dalam berproses aku rasa, kami sangat cair, berbaur.
Akhir pekan yang
asyik, sepulang dari Cilaki, kami bertiga (aku, jundun, dan Agung) makan sate,
ada lapar yang kami (aku sebenarnya) lupakan selama kelas berjalan sebab ada
cemilan yang panitia sedikan, maka terganjallah segala keresa sebab lapar.
Begitu kelas usai kami ingat sabab lapar tak bisa lagi ditahan.
Bravo …