Selasa, 21 Januari 2020

Puisi : Hikayat Kupu-kupu


Ini puisi lama, setelah dulu menyerah menjadi penulis puisi, kemudian lebih getol berposes teater. Mungkin, nanti akan ada puisi-puisi lain serupa aku bagikan tanpa mengeditnya lebih dulu hahaha ...

yang penting jangan jauh-jauh ,,,


Hikayat Kupu-kupu


tak ada yang tahu
seekor kupu-kupu pernah hinggap
di sudut ruang tamu
tentu, kupu-kupu itu datang
membawa rahasia
yang suatu saat ia bawa pergi lagi
tanpa ada yang pernah tahu
begitu pun aku

2013
Fuad Jauharudin

Jumat, 17 Januari 2020

Catatan Bob Anwar #2


11 januari 2020

Hari itu pertemuan keduaku mewakili Bob Anwar dalam RecVolution. Kali ini secara mental bisa dikatakan aku lebih siap, sudah ada empirisitas ruang di minggu sebelumnya. Minggu lalu diberikan informasi jika pertemuan selanjutnya kami sudah mulai berlatih secara individu atau kelompok yang terdaftar.

Sialnya, menjelang pukul 11.00 dua temanku memberi kabar, mereka tidak bisa hadir, dengan alasannya masing-masing. Yang penting aku sudah siap, apa pun masalahnya kami (Bob Anwar) masih bisa berdiakusi via WAG selama proses nanti di kelas. Kali ini aku membawa gitar, “biar kaya Dencas”. Kali itu aku tidak terlambat, kelas belum dimulai setalah kami (aku pergi bersama Jundung dana gung) sampai di Rumah Komuji. Masih bisa kami habiskan sebatang keretek sampai Kang Panji mebuka kelas pertemuan keempat RecVolution.
**
Kelas dimulai. Setelah dua kawan (tiga orang sebernanya tapi aku anggap dua, sebab salah satunya grup duo) membawakan karya mereka sebagi pembuka. Selesai 2 penampilan itu, kang Panji mengambil kembali forum. Ternyata informasi minggu lalu salah, pertemuan kali ini, kami masih akan berlatih dengan kelompok acak (syukurlah, tak jadi kesepian). Kelas dibuka dengan pengantar dari Mentor, menggiring kami-peserta untuk dapat mengkritisi syair lagu. Sesaat kemudian, kami diperdengarkan penggalan lagu Roman Picisan Dewa19. Sebelum memutar lagu, kang Panji memberi petunjuk, ada kesalahan dalam syairnya.

Aku pikir, kesalahannya pasti soal pemilihan frasa “busur panah”. Dugaanku tepat, setelah di lempar ke forum untuk mulai mengkritisi, nona jangkung dengan rambut bob, belakangan aku tahu namanya Pelle, mengkritisi sola itu. Hal itu langusng diiyakan oleh mentor. Masalah dalam lagu adalah penggunaan farasa busur panah yang mungkin sebenarnya penulis bermaksud pada anak panah yang dapat least dan menancap. Entah lah, ini timbul dari keluputan atau ketidak tahuan, hanya Tuhan dan penulisnya yang tahu.

Selesai di situ kami diperdengarkan lagi sebuah lagu, kali ini milik Nissan Fortz, Sore Sebelum Hujan. Petunjuk yang diberikan adalah, ada hal yang tidak konsisten. Kami di perdengarkan lagu itu lebih panjang dari lagu sebelumnya. Karena lagu yang terbilang baru dan belum akrab, meski pempat beberapakali lewat ketika suffle di Spotify, aku merasa penting untuk mencari syair lagu itu di Google.

Setelah 2-3 kali aku baca, aku menemukan beberapa hal yang mungkin dimaksud tidak konsisten. Ada logika peristiwa yang di bangun yang bisa di kritisi. Hal lainnya adalah subjek dalam penggunaan sudut pandang dan aku lirik. Dalam bait-bait awal aku lirik dalam syair memosisikan pendengar/pembaca sebagai orang kedua dengan penggunaan diksi aku, kau dan kita dalam lariknya: … Di sepanjang jalan kau tersenyum/Dan bilang mama papa tak mencarimu/Karena kau denganku … yang kemudian menjadi masalah dan terjadi kerancuan dalam logika bahasanya adalah pada bagian Reff : … Aku dan kamu bercerita lama-lama/Sore sebelum hujan/Aku dan kamu duduk berdua/Ungkapkan isi hatinya … penggunaan kata ganti –nya dalam larik terakhir menjadi rancu sebab sejak awal tak ada orang ketiga dalam lagu. Syair disusun sangan intim bercerita sepasang kekasih (aku dank kau) yang tengah berkencan.

Entahlah … sesi ini begitu menggairahkan bagiku. Belakangan, aku dan beberapa teman sering diresahkan oleh lirik-lirik lagu yang memiliki masalah kebahasaan. masalah lebih rumit dari kedua contoh yang dilempar kang panji waktu itu. Banyak sekali lagu bersyair gelap, dan kerap mengganggu. Kami sering menyayangkan lagu-lagu yang indah dan sering kami nyanyikan kala senggang sambil gigitaran harus terhenti ketika larik syairnya membuat kami berpikir keras dengan bannyaknya logika Bahasa yang tidak selesai. Nauzubullahhimindalik … bukan kami merasa bisa dan paling benar, kami juga sadar bahwa membuat syair lagu memiliki kerumitan lain jika di banding dengan menulis puisi atau prosa. Ada metrum yang harus dipertimbangkan dengn nada yang ada bukan hal ringan. Tidak berarti salah atau tak baik menulis syair yang gelap dan tersembunyi, tentu pebulis memiliki maksud lain dalam penciptaanya. Mungkin ini hanya masalah selera yang tak bijak jiga menjadi perdebatan. “Aku hanya suka lotek, dengan berbagai realisasinya, kalau kamu tak suka tentu saja kamu punya alasan yang logis dan sama-sama harus kita terima menjadi kekayaan.”

Bersama Bob Anwar, kami sering berdebat ketika mencoba membuat syair lagu sendiri. Banyak yang akhirnya tak terselasaikan gara-gara tidak menemukan padanan kata yang sanggup mewakili apa yang ingin kami sampaikan dengan nada yang kami miliki.
**
Setelah itu, seperti minggulalu, kami dibagi kedalam lima kelompok kemudian berlatih mebuat syair yang “logis”. Tiap kelompok menyumbangkan sebuah kalimat maksimal 12 suku kata, dengan tema Persaudaraan. Dari lima kelompok hanya berhasil membangun tiga larik di awal, kemudian kami stuck. Banyak yang memberi tawaran, tapi dianggap masih kurang mantap. Akhirnya mentor, merangkum semua masukan menjadi beberapa bait yang cukup asik. Mulailah kami diberi 30 menit untuk mebuat lagu dari syair yang dibuat secara kolektif itu.

30 menit selesai, saatnya presentasi. Hasilnya tak jauh dengan minggu lalu, masing-masing kelompok membawakan karya terbaiknya. Karya yang dibuat hanya kuarng lebih 30 menit dengan syair yang sama, namun akhirnya memiliki kekhasan dan sangat berbeda antara satu dan lainnya. Tiap kelompok memiliki sentuhan berbeda, mungkin ini didorong kecenderuangan musik yang bisa mereka mainkan. Kelompok kami presentasi terakhir dan setelah itu kelas akan di akhiri.

Sebelum benar-benar kelas selesai, Mang Daus memantik diskusi. Poin utamanya adalah soal perbedaan, menyikapi keberagaman, dan semangat kebersamaan. Kali ini benar-benar terjadi diskusi cukup hangat antara pemantik dan peserta. Aku tak banyak bicara, menyimak lebih menarik tiba-tiba kurasa sore itu. Selain itu, tiba-tiba kami diingatkan kalau forum ini merupakan kompetisi. Demi apa pun aku hampir lupa, sebab dalam berproses aku rasa, kami sangat cair, berbaur.

Akhir pekan yang asyik, sepulang dari Cilaki, kami bertiga (aku, jundun, dan Agung) makan sate, ada lapar yang kami (aku sebenarnya) lupakan selama kelas berjalan sebab ada cemilan yang panitia sedikan, maka terganjallah segala keresa sebab lapar. Begitu kelas usai kami ingat sabab lapar tak bisa lagi ditahan.

Bravo …

Kamis, 16 Januari 2020

Catatan Bob Anwar

4 januari 2020

Kali pertama aku mewakili Bob Anwar untuk Rec-Volution dengan Komuji. Kami dalam dua pertemuan sebelumnya diwakili Kresna, sampai akhirnya, hari itu dia absen, aku yang harus mewakili Bob Anwar.

Ah ... aku harus sedikit memberi konteks akan kemana tulisan ini sebenernya berjalan. Begini, Bob Anwar, adalah trio, kelompok bermain musik yang di bentuk oleh teman dekatku Fajar M. Fitrah dan Kresna Prmana teman sepermainanya dimasa kanak. Aku sendiri gabung belakangan setelah bereka sempat berproses sebagai Dou. (Mungkin suatu ketika akan ada catatan lain mengenai khusus menyoal Bob Anwar. semoga). Kami terdaftar dalam sebuah event yang diselenggarakan oleh Komunitas Musisi Menganji (Komuji). Rec-Volusion adalah nama event itu, semisal ajang kompetisi untuk penggiat musik baik grup atau solois untuk bisa mendapat ruang berkarya dan bahakan di rekam dan di distribusik karyanya.

dalam prosesnya kami diberikan pelatikan selama 8 minggu, menyoal kepenulisan materi lagu kemudian diberikan tantangan untuk berkarya. Karya yang kami buat selama pelatihanlah yang akan dikurasi oleh juri yang di siapkan Komuji, sampai akhirnya dapat direkam dan diproduseri. Kurang lebih macam itu konteknya.

Mari lanjutkan:

Tentu saja ada keragu-raguan yang aku simpan untuk datang. Untuk apa? Untuk akhirnya berkumpul, dan bergaul dalam forum yg notabene ceruk baru untukku. Musisi ... Gusti, aku yakin yang akan aku temui musisi "tulen", sedangkan aku belum juga mau mengaku musisi, dengan pengetahun dan kemampuan musik yang seadanya dan sekuat tenaga ini. Tapi kami, kelompok yang sudah terdaftar dan harus berkomitmen dalam Rec-volution. Kami juga sepakat, harus bersinggungan dengan mereka (musisi), salah satu jalannya dengan melamar jadi salah peserta RecVolution.

Baiklah, diantar Ilham aku pergi ke cilaki setelah sebelumnya memastikan alamat Rumah Komuji (RK) dengan Google Map. Sampai di tempat, cukup kebingungan, sebab RK ternyata sedang dalam renovasi. "Di mana pintu masuknya?" Dengan sok tahu, kususuri lorong samping yang tampak semisal garasi dan kini jadi tempat penyimpanan beberapa bahan bangunan sementara, sebelum diolah. dengan keyakinan, lorong itu mengarah kedalam dan benar saja, langsung aku temukan kang Panji yang sudah memulai kelas. Sedikit malu, aku sapa, sambil memyembunyikan kegugupan. Beberapa wajah tak asing kutemukan dan turut mendapat sapa. Sambil mengisi presensi dan mengganti baju (baru datang sudah di kasih kaos baru, tampak meyakinkan sekali forum ini, mantaaap). Aku ngobrol dengan almuqarom Ust. Egi hahaha.

**

Aku mulai bergabung dengan peserta lain dengan beberapa pertangayaan dan gairah yang cukup meleletup-letup "Hal keren apa yang bisa didapatkan hari ini, setelah beberapa kerumitan kudapat, sejak vespa ngadat sedari malam." kurang lebih, jika didramatisir, kalimat macam itu yang ada dalam kepala. Dalam forum kami dibuat menkadi 5 kelompok (seingatku), bersama kawan-kawan baru yang tak satupun aku bisa ingat nama mereka.

Kami mulai diberi tantangan:

Pertama, masing-masing penghuni kelompok membuat sebuah kutipan unik. Tak ada kesulitan berarti, tapi karena ada perasaan di ruang baru beberapa keraguan mulai timbul (ah ini sangat personal). Selesai tantangan itu kami diberi satu tantangan lagi. Kami di tintut membuat lagu baru dari syair Balonku. Ini menarik, kami harus membuat lagu baru dari syair lagu yang sangat angkrab, setidaknya sejak kami masuk Taman Kanak-kanan, tak selesai di situ, kami hanya di izinkan mengunakan tiga cord standar.

Selesai tantangan "Balonku", kami bertukar kutipan dengan kelompok lain, ya, kutipan yang sebelumnya kami sudah tulis. Kembali kami harus membuat lagu dari kutipan yang dititipkan teman dari kelompok lain itu.

Hal ini yang tidak terbayangkan sebelumnya. Membuat karya dengan orang asing. Cukup menarik. Membuat karya bersama teman dekat, teman satu band hal yang lumrah terjadi, tapi membuat karya dengan 4 orang yang baru di jumpai, bahkan namanya pun belum bisa kuingat adalah hal baru dan memacu adrenalin. Ah ... Dasar bakat bersama kawan-kawan yang cukup andal,tantangan kedua bisa di lewati. Dan cukup menghibur diri kami sendiri, setidaknya.

Dalam proses ini, ada kesadaran lain kudapat. Terlebih soal istilah back to zero yang kerap aku dengar bertahun-tahun lalu ketika mulai mengakrabi teater. Memasuki ceruk baru, orang-orang baru, dan tantangan baru dalam dunia yang kadang masih terasa asing.

Satu lagi hal besar yg diingatkan oleh mentor (kang Panji): menjemput mood. Mungkin benar, cukuplah mereka yang hidup di zaman romatik yg menulis (berkarya) menunggu ilham atau wangsit turun dari langit. Momen puitil bisa dikejar atau bahkan diciptakan. Ya semoga hal ini bisa sangat kami terapkan dalam proses kreatif kami.

*
Sebelum berakhir, mang Daus dan Pak Egi memberikan semisal tausiah. Ketololan yg kulakukan adalah tak terlalu memerhatikan mereka. Tak banyak yg bisa kuceritakan ulang. Tapi semua energi baik ditularkan hari itu.

Aku kira, kedua teman saya di Bob Anwar harusnya menyesal, melewatkan forum hari itu. Percakapan bersama Jundung dalam perjalanan pulang membuat sudut pandang dan beberapa hala yg melengkapi kebahagian hari itu.

Ariiibaaa ...

*maafkan aku ya, banyak salah tiknya