Tahun 2014 lalu Puisi-puisi ini sempat aku kirim ke redaktur koran (radar Tasik). Kalau gak salah beberapa puisi dimuatkan di sana (etah dua atau tiga judul), aku lupa yang mana sebab gak sempat mengarsipkan cetakan korannya.
Tahun itu, sedang asik nulis puisi cinta, patah hati, lagi empiris solnya, diputusin pas lagi sayang-sayangnya. Tahu lah ya gimana .... hahahha.
Baiklah, sekarang kamu boleh baca, tak ada yang aku edit meski gemas dan terlampau bikin nyengir dibeberapa larik juga baitnya tapi ya begitulah remaja yang tengah patah tahun 6 tahun lalu, aku bagikan di sini seadanya, dengan perasaan lain tentunya haha.
Semoga gak terlalu mengecewakan ..
****
****
Sekabar
Kenangan dari Partere
Ane,
Sekabar
kenangan di Partere
Kudengar
dari malam
Membuatku
kerasan di sini
Di antara
rimbun dedaun
Juga
patung-patung
Tepat
kita menjelma sajak
dan jatuh pada
cinta yang sulit ditebak
Malam
ini
Angin
tiba-tiba setajam kenyataan
Meranggaskan pohon besar di kepalaku
Atau
kenyataan yang sedingin angin
Tak
hirau pada gigil penghunitaman
Meski
mereka selalu sepakat pada keadan
Tanpa
banyak pernyataan
Sementara aku belum juga dapat percaya
Meski itu serupa keharusan
yang diramalkan
Dalam
sajak atau hukum alam
Semisal
kita:
Jatuh
cinta dan berpisah pada akhirnya
2014
Memoar
Selepas
teraweh
Sekan-akan
kita tak pernah ada yang melihat
Dalam
pulang
Di
suatu tempat , di sudut malam
Sawah,
langit dan angin bersepakat
Tak ada yang jelas terlihat
Selain bintang, lampu kota dan kau
yang entah
Kemudian
kita berbicara kemungkinan
Seperi
petani yang ragu membaca cuaca:
Kadang-kadang
hujan tergesah atau kemarau
Yang
betah bermain di tengah sawah
Begitu
pun hati kita
Selama
berjalan
Hampir
kita tak sadar
Suatu
saat kita bisa lalai melihat ruas jalan
Sebab
gelap hinggap atau kita terlena oleh rahasia:
Bisa saja mukena terjatuh atau bahkan hati kita
kita tak pernah tahu ada lubang
Yang
mudah saja kita injak
Kemudian
menjatuhkan semua yang kita bawa
Semisal
cinta atau cita-cita
yang
susah payah kita asah dengan lapar
Sejak
fajar mentah di muka jalan ini
“Nikmat
Tuhan mana lagi yang kita dustakan”
Sebab
kita belum juga paham
Sesuatu
yang jauh dan tidak terlihat
Mukin
saja serupa urat saraf
Serupa
kita yang bertatapan
Tak
pernah sadar apa yang kita rasakan
Lantas
kita akhiri semuanya
Setelah
rumah dengan ramah menerima singgah
Bertaut
dengan lelah
Mengunduh
mimpi indah
Atau
sekadar membiarkan lelah beristirahat
2014
Pertanda
1
Malam
itu
Di
luar hujan rapat
Tiba-tiba
pigura jatuh
Sebab
beban atau karena sebuah firasat
Sementara
kau berkirim pesan
Lewat
basah dan pecah kaca:
Ada
basah pada ranum buah pipimu
Oh
ternyata matamu ikut pecah
entah
untuk alasan apa
2
Sore
tadi
Burung-burung
bergegas pulang
Sebelum
awan benar-benar pecah
Bahkan
di cermin kamarmu
3
Suatu
pagi
Jarum
yang kupegang dengan tenang
Menyulam
jarak pada kainmu
Tiba-tiba
sangat ganas
Ia
turih ibu jari yang sedari tadi
Mengatur
anak-anaknya yang tampak semangat
Menberi
jalan pada sulam cintamu
2014
Kepada Mata
Seorang Gadis
-As Markos-
Ia
tak pernah tahu, apa yang aku pikirkan
Mungkin
bisa membuat mata pecah
Bahkan,
hingga ia benar-benar titipkan matanya
Padaku
Sementara
aku asik melupakan sekerat nama
Melupakan
sebuah pertemuan beserta akhirnya
Melupakan
semua rasa bersalah
Tiba-tiba,
ia mengantarkan
Sepotong
mata yang sama
Yang
aku jumpai di suatu pagi
Dan
sedang aku lupakan
Sebab,
akhirnya tahu
Mata
itu takkan sanggup lama menatapku
Kemudian
tergesa-gesa
Mendahului
matahari
Menuju
senja purba
Sampai
sekarang
Ia
tak pernah tahu apa yang kupikirkan
Yang
membuatku ingin cepat berubah
Semisal,
mengukir kursi
Atau membuat rumah
Dengan
tangga-tangga yang melingkar
Di
dalamnya
Sebelum
magrib makin dekat
Dan
malam mengukir nisan untukku
Aku
terus merangkak
Di
balik matanya.
2013
Berpikir Tentang
Hidup
dari
ujung kepala
gagak-gagak
menyeruak
mematuk-matuk
telunjuk
yang
ditumbuhi serat
usia
juga kamboja
tentu,
kepala serupa batu
yang
sedia terlempar
ke
seberang malam
bahkan
bukan untuk kembali
2012