Senin, 26 Agustus 2019

Cerpen: Apa yang Akan Kamu Lakukan?


Apa yang Akan Kamu Lakukan?



“Apa yang ‘kan kamu lakukan, kalo membunuh seseorang tanpa disengaja?” Seketika kami henghentikan tawa. Yas mengisi lagi Long Island di gelasku yang mulai surut.

“ini serius! coba kalian pikirkan. Bagaimana jika kita, tiba-tiba aja, membunuh seseorang. Anggap saja karena pertengkaran.” Selesai di kalimat terakhir Jul menyambar gelasnya.

***

Malam itu kami berkumpul di sebuah bar yang cukup favorit. Belakangan Aku, Jul, Yas, dan Okeu cukup sulit meluangkan waktu bersama. Sejak lulus, Yas pulang kampung meneruskan usaha konfeksi orang tuanya. Begitu juga Oke, dia lebih banyak aktif di LSM di kota kelahirannya. Hanya aku dan Jul yang masih di kota ini, meski demikian kita pun jarang bertemu. Aku di sibukan oleh target dari kantor setiap minggunya, sedangkan Jul kesana kemari mengerjakan Even sebagai EO.

Kali itu dengan kesempatan yang langka kami berkumpul. Kami sepakat pesan satu tower besar bir bintang, beberapa cemilan dan satu teko Long Island. Ya, minuman jenis cocktail, campuran Cola, lemon tea, sedikit vodca, whisky, Rum, Tequila dan Gin, untuk “tarikan”. Sambil pesan tibaa-tiba jul menghentikan kami yang sedang merogoh dompet masing-masih.” Aku yang bayar, Cuan even kemaren lebihnya Gede. Hahaha”. Kita hanya tertawa sambal berterimakasih karena dana kenakalan bisa kembali kami simpan. Tanpa berpikir malam akan panjang, tak mungkin haya satu kali pesan.

hampir satu jami kami bicara ngalor ngidul muali dari kesibukan, kerjaan, peluang usaha, akhirnya pertanyaan konyol itu keluar dari mulut Jul. Memang itu bukan kali pertama, tapi ini cukup mengagetkan setelah 4 tahuan kita tidak pernah bersama. Sedari kuliah Jul, dan Okeu terbilang lebih liar dari aku dan Yas secara gagasan. Mungkin karena pergaulan mereka dengan teman-temannya di jurusan sastra dan seni.

Aku yang kuliah di jurusan administrasi seringkali merasa kewalahan meladeni pembicaraannya. Namun karna kami terus bersama terlebih untuk urusan hura-hura akhirnya hal-hal seperti itu menjadi pemakluman tersendiri untukku.

“Mau aku cincang aja, terus dikubur diam-diam, atau aku goreng, aku masak sekalian.” Yas menjawab dengan enteng pertanyaan Jul. Seolah tak dibebani apa pun, kemudian meneguk bir di gelasnya.

“klasik sekali! Mau dikubur dimana? Di dalam rumah, di tembok?” kami tertawa mendengan jawaban Yas.

“kamu tidak kreatif! cara itu udah banyak dilakukan dan selalu gagal menyimpan rahasia.” Oke meneruskan tawanya sambil mencari-cari pemantik untuk kreteknya.

“Sebelum Rian, si Jagal sadis muncul di berita, Edgar Alan Poe sudah menuliskannya dalam cerpen.” sambung Jul sambil mengerutkan dahi, sepertinya dia hampir tersedak oleh asap kreteknya. Kemudian buru-buru dia mengosongkan gelasnya.

Aku tidak bisa membayangkan kita saling bunuh, bahkan dalam keadaan paling mabuk sekalipun.” Aku menyerah. Yas menyeringai sambil mengisi gelas-gelas yang cepat sekali kosongnya, meninggalkan dingin yang mencair, membasahi gelas dan meja yang menopangnya.

“Ayolah, coba sesekali kita berimajinasi. Sekadar mencari efek katarsis, kita ini kan gak mungkin membunuh orang!” Jul tampak sangat serus dan bernafsu.

“ya betul juga, aku udah jarang membicarakan omong kosong kaya gini, itung-itung renuni gagasan. Hahahahah” Okeu tampak ingin melanjutkan permainan yang Jul buka. Aku hanya sesekali berpendapat dalam obrolan mereka, Yas, Jul, dan Okeu begitu asik, aku hanya ikut tertawa jiaka da pernyataan konyol dari mereka bertiga.

Hamper tengah malam, suasana akhir pecan semakin hingar binger. Musik dubstep disokong soundsistem dengan suran berdentum seakan memukul-mukul dada pegunjung. Cahaya lampu yang redup membuat kami tak hirau dengan pengunjung lain kecuali gadis-gadis seksi yang sesekali melitas dekat tempat kami membicarakan kematian yang rumit.

Sementara aku asyik menikmati bir dan cocktail, mereka bertiga terus mencari jawaban atas kematian yang iseng itu. Banyak modus dan metode pembunuhan juga usaha penyelamatan diri ditawarkan Yas atau Okeu. Tapi semua ditolak Jul mentah-mentah meski beberapa di-iya-kan beberapa saat sebelum akhirnya dibantah oleh seseoran lainnya.

Hanya sesekali pendiskusian teralihkan pada wanita-wanita seksi yang melenggang didekat meja yang kami duduki, terlebih ketika mereka memberi senyum diantara temaran lampu dan musik yang semakin mengeras. Kemudian kami kembali pada topik pembicaraan yang ngawang-ngawang, dan memusingkan untuk sebuah keisengan.

Tengah malam kami lewati beberapa menit lalu. Dua jam lagi bar harus bubar sesuai peraturan. Tapi musik semakin keras. Memerapa orang mulai tampak sempoyongan keluar masuk kamar kecil. Aku sendiru sudah mulai merasa tinggi. Tataku mulai runyam.

Tower yang kamipesan sudah diakut pelayan berganti dengan botol-bolol bir kecil dan hanya miliku yang masih sisa setengah. Yang lainnya tandas. Jul kembali memanggil pelayan dan meminta mengantarkan tiga botol bir lagi untuk meja kami. segera aku habiskan sisa bir yang hanya ada di botolku.

Pandanganku makin terasa kabur. Tubuhku lemas. Kini aku tak acuh dengan diskusi pembunuhan Jul, Yas dan Okeu. Sesekali aku tertawa melihat wajah Jul yang serius dengan percakapannya. Entahlah, mereka sudah “naik” atau belum. Tapi Jul mulai menelisik kuiltnya yang mirip orang tionghoa. Setiap kali Jul minum, kuitnya menjdi merah. Bukan hanya muka, tapi tangan dan perutnya. Sekali waktu ia akan merasa gatal sebadan jika tidak cocok dengan minumannya.

Tak lama pelayan datang menghampiri meja kami. Bukan hanya tiga botol bir saja yang dia bawa, ada dua botol lagi diantaranya. botol berukuran lebih pendek dari boto bir. Desainnya lebih mewah. Sebotol Gin 600 ml ku taksir. Juga sebotol minuman lainnya, untuk campuran. Rasa buah ceri, dengan kandungan akohol lebih rendah dari bir. Kami dapat bonus dari Bar.

“aku pikir, digantung lebih aman! aku akan mengantunnya seakan-akan dia bunuh diri” Jul sangat serius mengatakan hal itu sambil menyodorkan gelas berisi campuran Gin yang baru dintarkan tadi kepada Yas yang telah terkulai di kursinya. Dia sodorkannyajuga padaku yang sedari tadi terkulai tanpa bicara, kecuali menertawakan mereka.

Kemudian Jul menghabiskan yang tersisa. Mataku kabur dan bibirku tak bisa berhenti menghisap merokok. Aku muali sulit mengontrol tubuh. Aku lemas. Tapi aku melihat keseriusan di wajah jul. Di setiap kata-katanya. Apa yang mereka bicarakan masih jelas ku dengar.

“bagaimana mungkin kau menggantung orang itu, bisa aja kau menusuk, iya kan!” Okeu meyakinkan Jul. Alasan Jul sama ngawurnya. Aku ikut tertawa. “bener Jul, itu hanya mungkin jika kau bunuh orang itu dengan mencekik, atau membentur kepalanya dengan bata. Itu juga mungkin Jul, mungkin”. Aku tak tahan ingin tertawa setelah selesai ikut menyudutkan Jul. Samar-samar aku melihat Yas membuat gestur setuju denganku.

Jul menegak panjang Birnya. “ini cukup logis, untuk konteks pembunuhan yang dilakukan tanpa perencanaan dan tanpa kesengajaan”. Oke mengerutkan dahinya.

Yas hirup kereteknya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan sebelum ia mengambil lagi botol birnya. Yas menegaknya panjang. “kalian bayangkan. Orang yang bertengkar tiba-tiba, dan tidak berniat membuhuh, mungkin hanya akan bisa mencekik atau mebenturkan kepala lawannya, itu pun tanpa sengaja. Jadi sangat logis jika aku akan akan menggantung mayatnya.” Eentah memang jawaban Jul yang  masuk di akal atau aku yang sudah terlalu “tinggi” untuk bisa berfikir.

Sedari dulu aku memang tidak cukup kuat minum banyak. Apalagi jika harus dipaksa berfikir, terlebih hal konyol seperti ini. aku mulai merasa berat di kepala. Pandanganku semakin runyam, tapi telingaku masih cukup berfungsi dengan baik.

 “Tapi persoalan gak berhenti Jul, ada satu nyawa hilang dan polisi akan turut campur bahkan dalam sebuah percobaan bunuh diri. Bagaimana dengan hasil otopsi atau pisum? tetap ada perbedaan antara cekikan dan jeratan tali, apalagi benturan!”. Entah siapa bicara.Aku tidak akan membiarkan otopsi atau pisum dilakukan. yang sudah mati. ya matilah, orangnya sudah berkehendak mati dan berhasil mati apaagi!” Jul menajwab panjang sekali dengan cepat. Aku sudah tidak bisa lagi memperhatikan omong kosong yang mereka berbicarakan. aku masih bisa mendengar Jul menaikan nada bicaranya. Begitupun Yas yang tidak mau kalah.

Kepalaku semakin berat. Aku tinggalkan mereka ke kamar kecil, aku mau muntah. langkahku sudah tidak stabil. Begitu aku berdiri beberapa kali aku akan terjatuh. Aku sempat mendengarkan olokan Okeu dan Jul, sebelum kemudian bertaya kemana aku akan pergi. Aku jawab sekenanya.

Demi Tuhan aku masih ingat sampai saat itu, bahkan masuk ke dalam kamar kecil pun aku masih ingat. Aku masih ingat bagai mana aku masukan telunjuku kedalam mulut untuk mengeluarkan isi perut. Setelah itu entahlah, aku tak begitu yakin dengan apa yang jadi.

***

Aku tidak ingat apa-apa. Mungkin aku bermimpi. Percakapan tentang pembunuhan itu terus berputar di kepaaku. Entah berapa kali aku mengeluarkan isi perutku aku tidak ingat. Sementara itu sayup sayup aku dengar benda terjatuh sangat keras. Aku tidak ingat sedang berada dimana. Yang aku ingat hanya terakhir kali aku pergi ke kamar keci di bar dan berusaha mengularkan isi perutku. Kini aku hanya rasakan bumi berputar. Aku tak bisa bangun kepalaku berat. mungkin aku minum terlalu banyak.

Ketika aku sadar matahari sudah merambat dari celah jendela yang tak tertutup rapat gondennya. Aku di rumah kontrakan. Kepalaku masih sedikit berat. Aku merasa bibir dan tenggorokanku kering juga sedikit lapar, mungkin karena semalam aku tidak lagi makan apa-apa selain kacang dan keripik kentang.

Aku rasakan ada sesuatu di tanganku. Ternyata sebilah pisau ada di tanganku. Karena kaget aku lemparkan pisau itu. Ada bercak darah di tangan, dan beberpa bagian baju yang aku pakai. Aku segera bangkit menahan berat badanku. Kepalaku terasa begitu berat.

Begitu aku mampu duduk aku temukan Yas bersimbah darah tak jauh dari tempatku berbaring tadi. Dalam keadaan cemas aku pastiakn dia masih hidup. aku panggil namanya. Aku guncang tubuhnya, percuma Yas telah tewas. Aku sangat ketakutan. Aku tak ingat benar apa yang terjadi seteah aku pergi ke kamar kecil di bar tadi malam.

Sambal kebingungan aku pergi keluar kamar, di kusen  menuju lorong dekat kamar mandi aku temukan tubuh Jul tergantung dan tubuh Okeu tersungkur di dalam bak mandi. Aku pastikan mereka masih bernyawa, semua nihil.

Aku semakin camas, aku tak tahu pasti apa yang telah terjadi. Demi Tuhan aku tak ingat apa-apa, apa yang harus aku aku lakukan?

***

Bandung, 2017

*beberapa waktu lalau, cerita ini sempat dimuatkan oleh KelakarFibrasi.com
* maaf kalau banyak salah ketik, kasih tahu ya sebelh mana saja. :) 

Selasa, 13 Agustus 2019

Jim Morrison, kenapa harus dia?

Lantas kenapa harus Jim Morrison? Sebenarnya bukan apa-apa, tapi, siapa yang gak tahu Jim Morrison, berarti dia memang tidak pernah mengenalnya. Iya, aku juga. Mana mungkin bisa kenal, dia mati tahun '70an, lebih dari 20 tahuan sebelum aku bisa membedakan musik metal dan rock. Jauh sebelum akhirnya aku kenal Powerrangger. Yang lebih mustahil kita kenal dia lahir di Amerika. Mungkin hanya orang-orang yang kebetulan saja bisa mendengarkan musik-musik dari band The Doors, kemudian mulai penasaran personelnya, sampai seolah-olah mereka bisa mengenal (dari berita), terlebih soal Jimbo (baca: Jim Morrison) sebagai frontman sekaligus ikon dari band tersebut.

Tapi ini serius. Secara sederhana, Jimbo seolah begitu mudah "meracun" banyak remaja di belahan dunia, termasuk indonesia sejak kemunculannya bersama The Doors kala itu. Bahkan sampai sekarang setelah dia meninggal. Mungkin lain waktu akan aku ceritakan lebih jauh tentang The Doors, kalau sudah mumpuni. Jangan sampai aku membodohi kamu, bisa saja sebenarnya aku mulai dengan improfisasi di sana-sini, tapi ada solusi lebih bijak untuk kamu mengenal The Doors dan sang frontman, kamu bisa nonton langsung filmya: The Doors: When are you stangger, tahun 1991 mungkin akan mempermudah. Ini trailer-nya : https://www.youtube.com/watch?v=IERQmR2qESU

Baiklah kembali lagi, Aku sendiri mulai ngeuh doi (Jimbo) sejak melihat poster berukuran kurang lebih 80x120 cm di kamar salah satu Om-ku. Ini poster yang aku lihat tiapkali mampir ke rumah nenek dan masuk kamar om-ku yang satu itu:



Beranjak diakhir sekolah dasar mulai aku akrab dengan lagu-lagunya. Setidaknya lagu-lagu semisal light my fire, the end, atau crazy frog sambil lalu sering kunikmati jika kebetulan sedang diputar Mpah (bapakku) lewat VCD bajakan yang dibeli dari sales dor to dor

Baiklah ini pengakuan dosa; Sebenarnya apa yang aku tulis di atas hanya pengantar untuk masalah yang ingin kubawa. Masalahnya adalah aku menulis puisi untuk Jimbo 2 tahun lalu. bukan sombong, tapi ini sebab dia (jimbo) memang mengganguku setidaknya sejak 2-3 tahaun lalu. Puisi itu sempat dimuatkan oleh Buruan.co bersama beberapa puisi lain yang serupa. 

Nah ... kali ini kumuat ulang utuh puisinya, semoga menyenangkan. Kalau perlu, caci-maki juga boleh, tapi jangan kasar-kasar, kadang aku baperan. Begitu saja pengantarnya semoga menggairahkan.


Kabar buat Jimbo

Yeaah… This is the end, my only friend, the end

Baiklah,
Kita memang asing Jim.
puisi adalah kenangan
mengepung kita
di tengah mesin-mesin penghancur,
juga berita alat kecantikan

Aku menerkamu dari jejak kaki kadal-kadal pasrah
kehilangan siapa yang harus mereka dengar
sebagai raja atau pria berlidah naga
yang ingin membangun agama
dari sebuah pintu pengetahuan

Apa di sana kau temukan heroin?
atau malah merasa asing Jim?

Gadis-gadis yang dulu rela menciummu
kini berganti rupa dan bisa saja lebih gila
begitu terjebak dalam hutan
pinggiran kota purba

Sisa-sisa suaramu masih bergaung
menjadi ular raksasa sepanjang 7 mil
dengan kulit begitu dingin
melilit halusinasi orang asing di tanah yang kering

“Lihat, seorang ayah mampus
dicabik serigala yang tumbuh di kepala anaknya”

Ini telah berakhir Jim
sungguh sebuah akhir
beruntunglah kau menyerah lebih awal
jika tidak, kau hanya semakin tua dan nahas
dan kita benar-benar tak saling mengenal

2017-2018

Puisi ini sempat aku bacakan (sebelum mengalami sedikit editan) diiringi Om Trisno yang juga ngefans sama Jimbo monggo: https://www.youtube.com/watch?v=v7dSKBq4SXM

 *(maaf kalau banyak typo)

Begini Mulanya

Baikalah, Jadi begini mulanya, aku kira banyak hal di dunia ini yang bisa dibagi. besar maupun kecil, banyak atau sedikit, bahkan penting atau tidak sama sekali. Semua itu bersandar pada yang mungkin. kira-kira begitu seorang penyair menuliskannya dalam sebuah puisi: Kita memang bersandar pada mungkin. //Kita bersandar pada angin (baca:GM). tapi hal itu bisa  kita lupakan sudahlah ... .

Selain dibagi, banyak juga yang bisa dirayakan. Ini menurutku, bukan hanya kebahagiaan yang layak dirayakan, mungkin juga kesedihan. tentunya apa pun, apalagi soal hati, cinta dan sejenisnya. Hal yang tak ada habisnya dan terus dirayakan sejak manusia mulai diciptakan.

Maka, kamu akan mulai ikut merayakan apa pun yang mungkin ingin kubagi di sini, sebagai kebahagian atau yang lainnya. Maaf aku memaksa. setidaknya aku sudah minta maaf, selebihnya kamu sendiri yang akan menentukan: Kau boleh memilih Pergi atau ikut jatuh bersamaku (itu larik puisi Edwar Maulana aku lupa judulnya, kurang lebih seperti itu bunyinya, semoga sempat kubagi lain waktu puisinya.)

Kurang lebih aku berterimakasih. semua ini hanya upaya mengabadikan apa yang sebenarnya mudah hilang. semoga kamu berkenan. banyak juga, sampai hal-hal salah yang layak dibuang, tapi tidak sedikit yang masih bisa dimanfaatkan, semisal catatanku ini. Jika ini adalah rezeki, ingin sekali aku rayakan dengan secangkar kopi, seperti apa yang Mbah Jokpin bilang dalam "Surat Kopi", sayang kita tak bisa berbagi kopi di sini.

Aku cuma mau bilang: Jangan jauh-jauh. Semisal harapan, sebab, meski jauh akan selalu ada yang bisa mendekatkan, salah satunya kata-kata, doa lebih tepatnya. Dan aku selalu berharap semoga kebaikan tidak pernah menjauh. Jadi, Jangan jauh-jauh ya!!!

Ya, begitulah. Semoga tak ada yang menyesal.,

Bravo

(maaf jika banyak kata yang salah ketik, semoga tidak menurnkan mood hehehe.)