Minggu, 19 Juni 2022

# puisi patah hati : Selepas Kau Pergi

 Selepas Kau Pergi

 

Selepas kau pergi

Tak pernah ada kabar baik kudapat

Pada setiap saat

Padahal waktu adalah ibu

Bagi setiap nasib dan pemiliknya

 

Kemudian

77 kali doa ku dawamkan setiap malam

Mencari tempat paling sunyi dari sejumlah nyeri

100 zikir ku lagukan sebelum tidur

Berharap terhindar dari segala kabar buruk

Yang ditarik setiap indera

Ketika jendela pertama kubuka

Setelah dingin menjelma kamar yang ku diami

 

Selepas kau pergi

Kujumpai setiap kenangan

Pada setiap jalan yang kutempuh

Di luar dan dalam diriku

 

Sementara aku mengasuh nyeri

Dari setiap kenangan yang kutemui

Aku biarkan dia tetap mengalir dalam nadiku

Sampai suatu saat menyerah dan pasrah

Aku tahu:

 

Aku yang kini tengah payah

Bukanlah apa-apa

Bahkan sekadar bulu matamu yang mudah jatuh

 

2014

Rabu, 15 Juni 2022

#puisifuad : Homesick

 Homesick

 -Setelah KOC


Kadang basah

kadang dingin

dari tiap tahun yang kutahu

tetap seperti itu

 

Jangan tanyakan

di kota ini tak pernah sendiri

Selalu ada sunyi Selalu Ada ragu

 

Ada kamu:

                Barisan rindu

 

Yang asik mengganggu ditiap gang dan tikungan

 

Di kamar

setiap pagi seorang anak adalam cermin

mengulang-ulang apa yang dia katakan

dan tetap aku tak punya jawaban

sedangkan kemarahan bukan yang diharapkan

 

Dan cukuplah

Menjadi alasan untuk menemukan pulang

 

2021

Kamis, 17 Maret 2022

Puisi : Kuputuskan Menulis Sajak

 




Kuputuskan Menulis Sajak Buat Sari

 

sekarang aku sulit meyakinkan diri

kuputuskan menulis sajak

agar kurasa kau tetap ada

 

setidaknya bukan lagi rengekan atau story

media sosial yang belum tentu kebenarannya

 

bukankah kau tahu dunia itu

begitu banyak kepura-puraan

 

tapi disini niscaya adalah aku yang lain

yang tak pernah ada di manapun

dalam foto atau cermin sekalipun

 

dan kini aku dapat tenang membayangkan

kau tersenyum atau tidur, damai dan menawan

 

meski keingin kerap berdekatan tak bisa terelakan

maka kuputuskan menulis sajak

sekalipun hanya kesia-siaan

 

ketika aku menulisnya

kujumpai perasaan yang sempat kau sangsikan

semisal pertemuan kita yang begitu tiba-tiba

setelah sempat saling melupakan

hidup dalam kerumitan masing-masing

kemudian jatuh bersama meski pura-pura

tak pernah ada harapan selain kekeliruan

namun ada hari yang kita bagi

melempar kangen atau sekadar kalimat lullaby

penuh kasih dan penuh kehati-hatian

 

biarlah sajak ini kutulis meminjam namamu

dan abadi di dalamnya

 

***