Selasa, 09 Juni 2020

Puisi Patah Hati


Tahun 2014 lalu Puisi-puisi ini sempat aku kirim ke redaktur koran (radar Tasik). Kalau gak salah beberapa puisi dimuatkan di sana (etah dua atau tiga judul), aku lupa yang mana sebab gak sempat mengarsipkan cetakan korannya. 

Tahun itu, sedang asik nulis puisi cinta, patah hati, lagi empiris solnya, diputusin pas lagi sayang-sayangnya. Tahu lah ya gimana .... hahahha. 

Baiklah, sekarang kamu boleh baca, tak ada yang aku edit meski gemas dan terlampau bikin nyengir dibeberapa larik juga baitnya tapi ya begitulah remaja yang tengah patah tahun 6 tahun lalu, aku bagikan di sini seadanya, dengan perasaan lain tentunya haha. 

Semoga gak terlalu mengecewakan .. 

****

Sekabar Kenangan dari Partere

Ane,
Sekabar kenangan di Partere
Kudengar dari malam
Membuatku kerasan di sini
Di antara rimbun dedaun
Juga patung-patung
Tepat kita menjelma sajak 
dan jatuh pada cinta yang sulit ditebak

Malam ini
Angin tiba-tiba setajam kenyataan
Meranggaskan pohon besar di kepalaku

Atau kenyataan yang sedingin angin
Tak hirau pada gigil penghunitaman
Meski mereka selalu sepakat pada keadan
Tanpa banyak pernyataan

Sementara aku belum juga dapat percaya  
Meski itu serupa keharusan yang diramalkan
Dalam sajak atau hukum alam
Semisal kita:
Jatuh cinta dan berpisah pada akhirnya

2014



Memoar

Selepas teraweh
Sekan-akan kita tak pernah ada yang melihat

Dalam pulang
Di suatu tempat , di sudut malam
Sawah, langit dan angin bersepakat
Tak ada yang jelas terlihat
Selain bintang, lampu kota dan kau yang entah
                     
Kemudian kita berbicara kemungkinan
Seperi petani yang ragu membaca cuaca:
Kadang-kadang hujan tergesah atau kemarau
Yang betah bermain di tengah sawah

Begitu pun hati kita

Selama berjalan
Hampir kita tak sadar
Suatu saat kita bisa lalai melihat ruas jalan
Sebab gelap hinggap atau kita terlena oleh rahasia:

Bisa saja mukena terjatuh atau bahkan  hati kita

kita tak pernah tahu ada lubang
Yang mudah saja kita injak
Kemudian menjatuhkan semua yang kita bawa
Semisal cinta atau cita-cita
yang susah payah kita asah dengan lapar
Sejak fajar mentah di muka jalan ini

“Nikmat Tuhan mana lagi yang kita dustakan”

Sebab kita belum juga paham
Sesuatu yang jauh dan tidak terlihat
Mukin saja serupa urat saraf
Serupa kita yang bertatapan
Tak pernah sadar apa yang kita rasakan

Lantas kita akhiri semuanya
Setelah rumah dengan ramah menerima singgah
Bertaut dengan lelah
Mengunduh mimpi indah
Atau sekadar membiarkan lelah beristirahat

2014



Pertanda

1
Malam itu
Di luar hujan rapat 
Tiba-tiba pigura jatuh
Sebab beban atau karena sebuah firasat

Sementara kau berkirim pesan
Lewat basah dan pecah kaca:
Ada basah pada ranum buah pipimu
Oh ternyata matamu ikut pecah

entah untuk alasan apa

2
Sore tadi
Burung-burung bergegas pulang
Sebelum awan benar-benar pecah
Bahkan di cermin kamarmu

3
Suatu pagi
Jarum yang kupegang dengan tenang
Menyulam jarak pada kainmu
Tiba-tiba sangat ganas
Ia turih ibu jari yang sedari tadi
Mengatur anak-anaknya yang tampak semangat
Menberi jalan pada sulam cintamu

2014



Kepada Mata Seorang Gadis

-As Markos-

Ia tak pernah tahu, apa yang aku pikirkan
Mungkin bisa membuat mata pecah
Bahkan, hingga ia benar-benar titipkan matanya
Padaku

Sementara aku asik melupakan sekerat nama
Melupakan sebuah pertemuan beserta akhirnya
Melupakan semua rasa bersalah

Tiba-tiba, ia mengantarkan
Sepotong mata yang sama
Yang aku jumpai di suatu pagi
Dan sedang aku lupakan
Sebab, akhirnya tahu
Mata itu takkan sanggup lama menatapku
Kemudian tergesa-gesa
Mendahului matahari
Menuju senja purba

Sampai sekarang
Ia tak pernah tahu apa yang kupikirkan
Yang membuatku ingin cepat berubah
Semisal, mengukir kursi
Atau membuat rumah
Dengan tangga-tangga yang melingkar
Di dalamnya

Sebelum magrib makin dekat
Dan malam mengukir nisan untukku
Aku terus merangkak
Di balik matanya.

2013



Berpikir Tentang Hidup

dari ujung kepala
gagak-gagak menyeruak
mematuk-matuk telunjuk
yang ditumbuhi serat
usia juga kamboja
tentu, kepala serupa batu
yang sedia terlempar
ke seberang malam
bahkan bukan untuk kembali

2012

Minggu, 31 Mei 2020

Lagu Lama, Belum Punya Judul


Alkisah Sukab-lah namanya
Si pecinta yang begitu nekad
Sebelum Candra apa lagi Fiersa
Sukab sudah nekad memotong senja

Untuk pacarnya Alina di sana
Di ujung kota entah berantah
Demi cinta dia rela dikejar polisi kota
Sebab senja terpotong di cakrawala

Sukab potong senja sebesar saku bajunya
Dia kirim dengan sepucuk surat
Seisi kota jadi kelimpungan
senja berlubang, sukab menghilang
(senja di curi, sukab menghilang)

Alina tak pernah mengarapkan 
Sukab nekat memotong senja
Padahal citanya jelas bertepuk sebelah tangan
dasar si sukab pria kelewatan

***



Tulisan yang baru kamu baca itu diketik akhir tahun 2018-an. Memang aku siapkan untuk lirik lagu. Entah kapan bisa direkam sampai sekarang aransemennya belum juga final. Belum sekalipun kami (Bob Anwar) bawakan live. Bahkan belakangan aku sendiri mulai bosan nyanyiin sambil gitran. Hehehe
Begini saja, aku ceritakan proses kretifnya (hiiah proses kreatif). Sebenarnya. Bisa jadi ini langkah curang mengambil ide Hamzah (vocalis Duduk Santai), semua diawali dari diskusi kami setelah aku mangkir dari meja kerja ke bangku kafe di halam kantor, jangan bilang-bilang, lagian sekarang udah di PHK dampak covid19 hahaha. Biasalah obrolan, ngelantur kesana kemari, kalau gak salah dulu Bob Anwar-BA baru sedang nunggu hasil mixing projek EP Album musikalisasi puisi (kalo sempat aku cerita lain waktu), Duduk Santai-DS juga. Kami bicara seputar rencana merilis projek ini di flatform digital dan segala embel-embel setelah itu juga beberapa fenomena dipermusikan populer hari itu.
Sampai mulai bosan cerita pengalaan proses record, juga gunjing sana –sini, Hamzah curhat rencana untuk projek DS selanjutnya. Ada gagasan menarik, yaitu bikin garapan album dengan konsep alih wahana dari karya sastra. Ini bukan hal unik sebenarnya, DS didominasi anak-anak mahasiswa (alumni sekarang) seni musik, mereka juga sering batu isi pertunjukan teater. Beberapa kali kami kerja bareng dalam proses teater.
Hamzah bilang ada kerinduan menginterpretasi teks jadi karya musik. Bergerak dari sana, dia ingin membuat semisal musik tema atau sountrack dari karya sastra. Misal, dia ingin menginterpretasi satu cerpen/novel menjadi 5-10 lagu (album) yang mewakili alur dari cerita di karya yang diambil. Mulai dari perkenalan tokoh, konflok sampai penyelesaian masalah. Aku lupa detil obrolan kami waktu itu. Yang kuingat, aku memberikan 3 cerpen yang saling berkaitan karya Seno Gumira Ajidarma, Trilogi Senja. Secara subjektif itu cerpen yang bikin aku ngebet pengin nulis cerpen, pengetahuan soal cerpen itu juga yang bikin aing seolah-olah beribu-ribu langkah di depan anak indie “senja-senja tai anjing” kata Projeck Hambalang.

Alhasil tiba-tiba aku tergiur dengan gagasan itu. Tentu gagasan kami (aku dan hamzah) beda, DS berencana untuk menginterpretasi penggalan-penggalan alur sampai menjadi cerita utuh jika di nikmati full album. Aku sih sederhana aja, membuat rangkuman cerita dalam liriklagu. Kasarnya akum au bikin synopsis satu cerita dalam satu lagu. Bob Anwar kadung membuat musikalisasi puisi yang notabene salah satu bentuk apresiasi sastra, kenapa enggak kami teruskan untuk juga mengapresiapi prosa.

Beberapa hari setelah obrolan itu, Jadilah lagu di atas itu, sampai sekarang belum nemu deh judul yang cocok. Balada Sukab, Sukab-Alina, entahlah selama ini kami memanggilnya Lagu Sukab.  Sementara aja sebagai penanda ada lagu itu. Ya, lagu itu pada akhirnya bisa jadi sinopsis untuk dua cerpen karya SGA: Sepotong Senja Untuk Pacarku dan Surat Balasan Alina. (dua cerpen ini bisa kamu cari di internet, atau beli aja bukunya ada cetakan baru. pernah di bacana juga di peluncuran bukunya di GIK. Aku suka yang Abimana mebaca cerpen sebagai sukab buat cerpen Sepotong Senja Untuk Pacarku, tapi kurang suka sama Dian Satro baca Surat balasan Alina. aku lampirkan tautan Youtube-nya kalo kalian mau dengar/nonton) 

tapi aku kita ini cukup kacau sih. Sempai sekarang kadang-kadang masih juga bongkar pasang larik. ya makanya berdoa aja, semoga cepat bisa dieksekusi si Bob-lah dan bisa dinikmatilah seenggaknya teman-teman deket aja dulu. tapi ini cukup mebanggakan buat aku mah, lagu ini jadi lagu pertama yang aku buat untuk Bob Anwar. apalagi kalo jadi di garap hahaha semoga gak terlalu mengecewakan. maaf yah akunya gak pedean.

Soal rencana Hamzah, Entahlah, apa dia lanjut projek itu, atau bikin gagasan baru. Setahuku sih enggak. Hehehe.

***

Sepotong Senja Untuk Pacarku:

Selasa, 21 Januari 2020

Puisi : Hikayat Kupu-kupu


Ini puisi lama, setelah dulu menyerah menjadi penulis puisi, kemudian lebih getol berposes teater. Mungkin, nanti akan ada puisi-puisi lain serupa aku bagikan tanpa mengeditnya lebih dulu hahaha ...

yang penting jangan jauh-jauh ,,,


Hikayat Kupu-kupu


tak ada yang tahu
seekor kupu-kupu pernah hinggap
di sudut ruang tamu
tentu, kupu-kupu itu datang
membawa rahasia
yang suatu saat ia bawa pergi lagi
tanpa ada yang pernah tahu
begitu pun aku

2013
Fuad Jauharudin

Jumat, 17 Januari 2020

Catatan Bob Anwar #2


11 januari 2020

Hari itu pertemuan keduaku mewakili Bob Anwar dalam RecVolution. Kali ini secara mental bisa dikatakan aku lebih siap, sudah ada empirisitas ruang di minggu sebelumnya. Minggu lalu diberikan informasi jika pertemuan selanjutnya kami sudah mulai berlatih secara individu atau kelompok yang terdaftar.

Sialnya, menjelang pukul 11.00 dua temanku memberi kabar, mereka tidak bisa hadir, dengan alasannya masing-masing. Yang penting aku sudah siap, apa pun masalahnya kami (Bob Anwar) masih bisa berdiakusi via WAG selama proses nanti di kelas. Kali ini aku membawa gitar, “biar kaya Dencas”. Kali itu aku tidak terlambat, kelas belum dimulai setalah kami (aku pergi bersama Jundung dana gung) sampai di Rumah Komuji. Masih bisa kami habiskan sebatang keretek sampai Kang Panji mebuka kelas pertemuan keempat RecVolution.
**
Kelas dimulai. Setelah dua kawan (tiga orang sebernanya tapi aku anggap dua, sebab salah satunya grup duo) membawakan karya mereka sebagi pembuka. Selesai 2 penampilan itu, kang Panji mengambil kembali forum. Ternyata informasi minggu lalu salah, pertemuan kali ini, kami masih akan berlatih dengan kelompok acak (syukurlah, tak jadi kesepian). Kelas dibuka dengan pengantar dari Mentor, menggiring kami-peserta untuk dapat mengkritisi syair lagu. Sesaat kemudian, kami diperdengarkan penggalan lagu Roman Picisan Dewa19. Sebelum memutar lagu, kang Panji memberi petunjuk, ada kesalahan dalam syairnya.

Aku pikir, kesalahannya pasti soal pemilihan frasa “busur panah”. Dugaanku tepat, setelah di lempar ke forum untuk mulai mengkritisi, nona jangkung dengan rambut bob, belakangan aku tahu namanya Pelle, mengkritisi sola itu. Hal itu langusng diiyakan oleh mentor. Masalah dalam lagu adalah penggunaan farasa busur panah yang mungkin sebenarnya penulis bermaksud pada anak panah yang dapat least dan menancap. Entah lah, ini timbul dari keluputan atau ketidak tahuan, hanya Tuhan dan penulisnya yang tahu.

Selesai di situ kami diperdengarkan lagi sebuah lagu, kali ini milik Nissan Fortz, Sore Sebelum Hujan. Petunjuk yang diberikan adalah, ada hal yang tidak konsisten. Kami di perdengarkan lagu itu lebih panjang dari lagu sebelumnya. Karena lagu yang terbilang baru dan belum akrab, meski pempat beberapakali lewat ketika suffle di Spotify, aku merasa penting untuk mencari syair lagu itu di Google.

Setelah 2-3 kali aku baca, aku menemukan beberapa hal yang mungkin dimaksud tidak konsisten. Ada logika peristiwa yang di bangun yang bisa di kritisi. Hal lainnya adalah subjek dalam penggunaan sudut pandang dan aku lirik. Dalam bait-bait awal aku lirik dalam syair memosisikan pendengar/pembaca sebagai orang kedua dengan penggunaan diksi aku, kau dan kita dalam lariknya: … Di sepanjang jalan kau tersenyum/Dan bilang mama papa tak mencarimu/Karena kau denganku … yang kemudian menjadi masalah dan terjadi kerancuan dalam logika bahasanya adalah pada bagian Reff : … Aku dan kamu bercerita lama-lama/Sore sebelum hujan/Aku dan kamu duduk berdua/Ungkapkan isi hatinya … penggunaan kata ganti –nya dalam larik terakhir menjadi rancu sebab sejak awal tak ada orang ketiga dalam lagu. Syair disusun sangan intim bercerita sepasang kekasih (aku dank kau) yang tengah berkencan.

Entahlah … sesi ini begitu menggairahkan bagiku. Belakangan, aku dan beberapa teman sering diresahkan oleh lirik-lirik lagu yang memiliki masalah kebahasaan. masalah lebih rumit dari kedua contoh yang dilempar kang panji waktu itu. Banyak sekali lagu bersyair gelap, dan kerap mengganggu. Kami sering menyayangkan lagu-lagu yang indah dan sering kami nyanyikan kala senggang sambil gigitaran harus terhenti ketika larik syairnya membuat kami berpikir keras dengan bannyaknya logika Bahasa yang tidak selesai. Nauzubullahhimindalik … bukan kami merasa bisa dan paling benar, kami juga sadar bahwa membuat syair lagu memiliki kerumitan lain jika di banding dengan menulis puisi atau prosa. Ada metrum yang harus dipertimbangkan dengn nada yang ada bukan hal ringan. Tidak berarti salah atau tak baik menulis syair yang gelap dan tersembunyi, tentu pebulis memiliki maksud lain dalam penciptaanya. Mungkin ini hanya masalah selera yang tak bijak jiga menjadi perdebatan. “Aku hanya suka lotek, dengan berbagai realisasinya, kalau kamu tak suka tentu saja kamu punya alasan yang logis dan sama-sama harus kita terima menjadi kekayaan.”

Bersama Bob Anwar, kami sering berdebat ketika mencoba membuat syair lagu sendiri. Banyak yang akhirnya tak terselasaikan gara-gara tidak menemukan padanan kata yang sanggup mewakili apa yang ingin kami sampaikan dengan nada yang kami miliki.
**
Setelah itu, seperti minggulalu, kami dibagi kedalam lima kelompok kemudian berlatih mebuat syair yang “logis”. Tiap kelompok menyumbangkan sebuah kalimat maksimal 12 suku kata, dengan tema Persaudaraan. Dari lima kelompok hanya berhasil membangun tiga larik di awal, kemudian kami stuck. Banyak yang memberi tawaran, tapi dianggap masih kurang mantap. Akhirnya mentor, merangkum semua masukan menjadi beberapa bait yang cukup asik. Mulailah kami diberi 30 menit untuk mebuat lagu dari syair yang dibuat secara kolektif itu.

30 menit selesai, saatnya presentasi. Hasilnya tak jauh dengan minggu lalu, masing-masing kelompok membawakan karya terbaiknya. Karya yang dibuat hanya kuarng lebih 30 menit dengan syair yang sama, namun akhirnya memiliki kekhasan dan sangat berbeda antara satu dan lainnya. Tiap kelompok memiliki sentuhan berbeda, mungkin ini didorong kecenderuangan musik yang bisa mereka mainkan. Kelompok kami presentasi terakhir dan setelah itu kelas akan di akhiri.

Sebelum benar-benar kelas selesai, Mang Daus memantik diskusi. Poin utamanya adalah soal perbedaan, menyikapi keberagaman, dan semangat kebersamaan. Kali ini benar-benar terjadi diskusi cukup hangat antara pemantik dan peserta. Aku tak banyak bicara, menyimak lebih menarik tiba-tiba kurasa sore itu. Selain itu, tiba-tiba kami diingatkan kalau forum ini merupakan kompetisi. Demi apa pun aku hampir lupa, sebab dalam berproses aku rasa, kami sangat cair, berbaur.

Akhir pekan yang asyik, sepulang dari Cilaki, kami bertiga (aku, jundun, dan Agung) makan sate, ada lapar yang kami (aku sebenarnya) lupakan selama kelas berjalan sebab ada cemilan yang panitia sedikan, maka terganjallah segala keresa sebab lapar. Begitu kelas usai kami ingat sabab lapar tak bisa lagi ditahan.

Bravo …

Kamis, 16 Januari 2020

Catatan Bob Anwar

4 januari 2020

Kali pertama aku mewakili Bob Anwar untuk Rec-Volution dengan Komuji. Kami dalam dua pertemuan sebelumnya diwakili Kresna, sampai akhirnya, hari itu dia absen, aku yang harus mewakili Bob Anwar.

Ah ... aku harus sedikit memberi konteks akan kemana tulisan ini sebenernya berjalan. Begini, Bob Anwar, adalah trio, kelompok bermain musik yang di bentuk oleh teman dekatku Fajar M. Fitrah dan Kresna Prmana teman sepermainanya dimasa kanak. Aku sendiri gabung belakangan setelah bereka sempat berproses sebagai Dou. (Mungkin suatu ketika akan ada catatan lain mengenai khusus menyoal Bob Anwar. semoga). Kami terdaftar dalam sebuah event yang diselenggarakan oleh Komunitas Musisi Menganji (Komuji). Rec-Volusion adalah nama event itu, semisal ajang kompetisi untuk penggiat musik baik grup atau solois untuk bisa mendapat ruang berkarya dan bahakan di rekam dan di distribusik karyanya.

dalam prosesnya kami diberikan pelatikan selama 8 minggu, menyoal kepenulisan materi lagu kemudian diberikan tantangan untuk berkarya. Karya yang kami buat selama pelatihanlah yang akan dikurasi oleh juri yang di siapkan Komuji, sampai akhirnya dapat direkam dan diproduseri. Kurang lebih macam itu konteknya.

Mari lanjutkan:

Tentu saja ada keragu-raguan yang aku simpan untuk datang. Untuk apa? Untuk akhirnya berkumpul, dan bergaul dalam forum yg notabene ceruk baru untukku. Musisi ... Gusti, aku yakin yang akan aku temui musisi "tulen", sedangkan aku belum juga mau mengaku musisi, dengan pengetahun dan kemampuan musik yang seadanya dan sekuat tenaga ini. Tapi kami, kelompok yang sudah terdaftar dan harus berkomitmen dalam Rec-volution. Kami juga sepakat, harus bersinggungan dengan mereka (musisi), salah satu jalannya dengan melamar jadi salah peserta RecVolution.

Baiklah, diantar Ilham aku pergi ke cilaki setelah sebelumnya memastikan alamat Rumah Komuji (RK) dengan Google Map. Sampai di tempat, cukup kebingungan, sebab RK ternyata sedang dalam renovasi. "Di mana pintu masuknya?" Dengan sok tahu, kususuri lorong samping yang tampak semisal garasi dan kini jadi tempat penyimpanan beberapa bahan bangunan sementara, sebelum diolah. dengan keyakinan, lorong itu mengarah kedalam dan benar saja, langsung aku temukan kang Panji yang sudah memulai kelas. Sedikit malu, aku sapa, sambil memyembunyikan kegugupan. Beberapa wajah tak asing kutemukan dan turut mendapat sapa. Sambil mengisi presensi dan mengganti baju (baru datang sudah di kasih kaos baru, tampak meyakinkan sekali forum ini, mantaaap). Aku ngobrol dengan almuqarom Ust. Egi hahaha.

**

Aku mulai bergabung dengan peserta lain dengan beberapa pertangayaan dan gairah yang cukup meleletup-letup "Hal keren apa yang bisa didapatkan hari ini, setelah beberapa kerumitan kudapat, sejak vespa ngadat sedari malam." kurang lebih, jika didramatisir, kalimat macam itu yang ada dalam kepala. Dalam forum kami dibuat menkadi 5 kelompok (seingatku), bersama kawan-kawan baru yang tak satupun aku bisa ingat nama mereka.

Kami mulai diberi tantangan:

Pertama, masing-masing penghuni kelompok membuat sebuah kutipan unik. Tak ada kesulitan berarti, tapi karena ada perasaan di ruang baru beberapa keraguan mulai timbul (ah ini sangat personal). Selesai tantangan itu kami diberi satu tantangan lagi. Kami di tintut membuat lagu baru dari syair Balonku. Ini menarik, kami harus membuat lagu baru dari syair lagu yang sangat angkrab, setidaknya sejak kami masuk Taman Kanak-kanan, tak selesai di situ, kami hanya di izinkan mengunakan tiga cord standar.

Selesai tantangan "Balonku", kami bertukar kutipan dengan kelompok lain, ya, kutipan yang sebelumnya kami sudah tulis. Kembali kami harus membuat lagu dari kutipan yang dititipkan teman dari kelompok lain itu.

Hal ini yang tidak terbayangkan sebelumnya. Membuat karya dengan orang asing. Cukup menarik. Membuat karya bersama teman dekat, teman satu band hal yang lumrah terjadi, tapi membuat karya dengan 4 orang yang baru di jumpai, bahkan namanya pun belum bisa kuingat adalah hal baru dan memacu adrenalin. Ah ... Dasar bakat bersama kawan-kawan yang cukup andal,tantangan kedua bisa di lewati. Dan cukup menghibur diri kami sendiri, setidaknya.

Dalam proses ini, ada kesadaran lain kudapat. Terlebih soal istilah back to zero yang kerap aku dengar bertahun-tahun lalu ketika mulai mengakrabi teater. Memasuki ceruk baru, orang-orang baru, dan tantangan baru dalam dunia yang kadang masih terasa asing.

Satu lagi hal besar yg diingatkan oleh mentor (kang Panji): menjemput mood. Mungkin benar, cukuplah mereka yang hidup di zaman romatik yg menulis (berkarya) menunggu ilham atau wangsit turun dari langit. Momen puitil bisa dikejar atau bahkan diciptakan. Ya semoga hal ini bisa sangat kami terapkan dalam proses kreatif kami.

*
Sebelum berakhir, mang Daus dan Pak Egi memberikan semisal tausiah. Ketololan yg kulakukan adalah tak terlalu memerhatikan mereka. Tak banyak yg bisa kuceritakan ulang. Tapi semua energi baik ditularkan hari itu.

Aku kira, kedua teman saya di Bob Anwar harusnya menyesal, melewatkan forum hari itu. Percakapan bersama Jundung dalam perjalanan pulang membuat sudut pandang dan beberapa hala yg melengkapi kebahagian hari itu.

Ariiibaaa ...

*maafkan aku ya, banyak salah tiknya