Kamis, 16 Januari 2020

Catatan Bob Anwar

4 januari 2020

Kali pertama aku mewakili Bob Anwar untuk Rec-Volution dengan Komuji. Kami dalam dua pertemuan sebelumnya diwakili Kresna, sampai akhirnya, hari itu dia absen, aku yang harus mewakili Bob Anwar.

Ah ... aku harus sedikit memberi konteks akan kemana tulisan ini sebenernya berjalan. Begini, Bob Anwar, adalah trio, kelompok bermain musik yang di bentuk oleh teman dekatku Fajar M. Fitrah dan Kresna Prmana teman sepermainanya dimasa kanak. Aku sendiri gabung belakangan setelah bereka sempat berproses sebagai Dou. (Mungkin suatu ketika akan ada catatan lain mengenai khusus menyoal Bob Anwar. semoga). Kami terdaftar dalam sebuah event yang diselenggarakan oleh Komunitas Musisi Menganji (Komuji). Rec-Volusion adalah nama event itu, semisal ajang kompetisi untuk penggiat musik baik grup atau solois untuk bisa mendapat ruang berkarya dan bahakan di rekam dan di distribusik karyanya.

dalam prosesnya kami diberikan pelatikan selama 8 minggu, menyoal kepenulisan materi lagu kemudian diberikan tantangan untuk berkarya. Karya yang kami buat selama pelatihanlah yang akan dikurasi oleh juri yang di siapkan Komuji, sampai akhirnya dapat direkam dan diproduseri. Kurang lebih macam itu konteknya.

Mari lanjutkan:

Tentu saja ada keragu-raguan yang aku simpan untuk datang. Untuk apa? Untuk akhirnya berkumpul, dan bergaul dalam forum yg notabene ceruk baru untukku. Musisi ... Gusti, aku yakin yang akan aku temui musisi "tulen", sedangkan aku belum juga mau mengaku musisi, dengan pengetahun dan kemampuan musik yang seadanya dan sekuat tenaga ini. Tapi kami, kelompok yang sudah terdaftar dan harus berkomitmen dalam Rec-volution. Kami juga sepakat, harus bersinggungan dengan mereka (musisi), salah satu jalannya dengan melamar jadi salah peserta RecVolution.

Baiklah, diantar Ilham aku pergi ke cilaki setelah sebelumnya memastikan alamat Rumah Komuji (RK) dengan Google Map. Sampai di tempat, cukup kebingungan, sebab RK ternyata sedang dalam renovasi. "Di mana pintu masuknya?" Dengan sok tahu, kususuri lorong samping yang tampak semisal garasi dan kini jadi tempat penyimpanan beberapa bahan bangunan sementara, sebelum diolah. dengan keyakinan, lorong itu mengarah kedalam dan benar saja, langsung aku temukan kang Panji yang sudah memulai kelas. Sedikit malu, aku sapa, sambil memyembunyikan kegugupan. Beberapa wajah tak asing kutemukan dan turut mendapat sapa. Sambil mengisi presensi dan mengganti baju (baru datang sudah di kasih kaos baru, tampak meyakinkan sekali forum ini, mantaaap). Aku ngobrol dengan almuqarom Ust. Egi hahaha.

**

Aku mulai bergabung dengan peserta lain dengan beberapa pertangayaan dan gairah yang cukup meleletup-letup "Hal keren apa yang bisa didapatkan hari ini, setelah beberapa kerumitan kudapat, sejak vespa ngadat sedari malam." kurang lebih, jika didramatisir, kalimat macam itu yang ada dalam kepala. Dalam forum kami dibuat menkadi 5 kelompok (seingatku), bersama kawan-kawan baru yang tak satupun aku bisa ingat nama mereka.

Kami mulai diberi tantangan:

Pertama, masing-masing penghuni kelompok membuat sebuah kutipan unik. Tak ada kesulitan berarti, tapi karena ada perasaan di ruang baru beberapa keraguan mulai timbul (ah ini sangat personal). Selesai tantangan itu kami diberi satu tantangan lagi. Kami di tintut membuat lagu baru dari syair Balonku. Ini menarik, kami harus membuat lagu baru dari syair lagu yang sangat angkrab, setidaknya sejak kami masuk Taman Kanak-kanan, tak selesai di situ, kami hanya di izinkan mengunakan tiga cord standar.

Selesai tantangan "Balonku", kami bertukar kutipan dengan kelompok lain, ya, kutipan yang sebelumnya kami sudah tulis. Kembali kami harus membuat lagu dari kutipan yang dititipkan teman dari kelompok lain itu.

Hal ini yang tidak terbayangkan sebelumnya. Membuat karya dengan orang asing. Cukup menarik. Membuat karya bersama teman dekat, teman satu band hal yang lumrah terjadi, tapi membuat karya dengan 4 orang yang baru di jumpai, bahkan namanya pun belum bisa kuingat adalah hal baru dan memacu adrenalin. Ah ... Dasar bakat bersama kawan-kawan yang cukup andal,tantangan kedua bisa di lewati. Dan cukup menghibur diri kami sendiri, setidaknya.

Dalam proses ini, ada kesadaran lain kudapat. Terlebih soal istilah back to zero yang kerap aku dengar bertahun-tahun lalu ketika mulai mengakrabi teater. Memasuki ceruk baru, orang-orang baru, dan tantangan baru dalam dunia yang kadang masih terasa asing.

Satu lagi hal besar yg diingatkan oleh mentor (kang Panji): menjemput mood. Mungkin benar, cukuplah mereka yang hidup di zaman romatik yg menulis (berkarya) menunggu ilham atau wangsit turun dari langit. Momen puitil bisa dikejar atau bahkan diciptakan. Ya semoga hal ini bisa sangat kami terapkan dalam proses kreatif kami.

*
Sebelum berakhir, mang Daus dan Pak Egi memberikan semisal tausiah. Ketololan yg kulakukan adalah tak terlalu memerhatikan mereka. Tak banyak yg bisa kuceritakan ulang. Tapi semua energi baik ditularkan hari itu.

Aku kira, kedua teman saya di Bob Anwar harusnya menyesal, melewatkan forum hari itu. Percakapan bersama Jundung dalam perjalanan pulang membuat sudut pandang dan beberapa hala yg melengkapi kebahagian hari itu.

Ariiibaaa ...

*maafkan aku ya, banyak salah tiknya 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar