4 januari 2020
Kali pertama aku mewakili Bob Anwar untuk Rec-Volution dengan Komuji. Kami dalam dua
pertemuan sebelumnya diwakili Kresna, sampai akhirnya, hari itu dia absen, aku
yang harus mewakili Bob Anwar.
Ah ... aku harus sedikit memberi konteks akan kemana tulisan ini sebenernya berjalan. Begini, Bob Anwar, adalah trio, kelompok bermain musik yang di bentuk oleh teman dekatku Fajar M. Fitrah dan Kresna Prmana teman sepermainanya dimasa kanak. Aku sendiri gabung belakangan setelah bereka sempat berproses sebagai Dou. (Mungkin suatu ketika akan ada catatan lain mengenai khusus menyoal Bob Anwar. semoga). Kami terdaftar dalam sebuah event yang diselenggarakan oleh Komunitas Musisi Menganji (Komuji). Rec-Volusion adalah nama event itu, semisal ajang kompetisi untuk penggiat musik baik grup atau solois untuk bisa mendapat ruang berkarya dan bahakan di rekam dan di distribusik karyanya.
dalam prosesnya kami diberikan pelatikan selama 8 minggu, menyoal kepenulisan materi lagu kemudian diberikan tantangan untuk berkarya. Karya yang kami buat selama pelatihanlah yang akan dikurasi oleh juri yang di siapkan Komuji, sampai akhirnya dapat direkam dan diproduseri. Kurang lebih macam itu konteknya.
Mari lanjutkan:
Tentu saja ada keragu-raguan yang aku simpan untuk datang.
Untuk apa? Untuk akhirnya berkumpul, dan bergaul dalam forum yg notabene ceruk
baru untukku. Musisi ... Gusti, aku yakin yang akan aku temui musisi
"tulen", sedangkan aku belum juga mau mengaku musisi, dengan
pengetahun dan kemampuan musik yang seadanya dan sekuat tenaga ini. Tapi kami,
kelompok yang sudah terdaftar dan harus berkomitmen dalam Rec-volution. Kami
juga sepakat, harus bersinggungan dengan mereka (musisi), salah satu jalannya
dengan melamar jadi salah peserta RecVolution.
Baiklah, diantar Ilham aku
pergi ke cilaki setelah sebelumnya memastikan alamat Rumah Komuji (RK) dengan
Google Map. Sampai di tempat, cukup kebingungan, sebab RK ternyata sedang dalam
renovasi. "Di mana pintu masuknya?" Dengan sok tahu, kususuri lorong
samping yang tampak semisal garasi dan kini jadi tempat penyimpanan beberapa
bahan bangunan sementara, sebelum diolah. dengan keyakinan, lorong itu mengarah
kedalam dan benar saja, langsung aku temukan kang Panji yang sudah memulai
kelas. Sedikit malu, aku sapa, sambil memyembunyikan kegugupan. Beberapa wajah
tak asing kutemukan dan turut mendapat sapa. Sambil mengisi presensi dan
mengganti baju (baru datang sudah di kasih kaos baru, tampak meyakinkan sekali
forum ini, mantaaap). Aku ngobrol dengan almuqarom Ust. Egi hahaha.
**
Aku mulai bergabung dengan
peserta lain dengan beberapa pertangayaan dan gairah yang cukup meleletup-letup
"Hal keren apa yang bisa didapatkan hari ini, setelah beberapa kerumitan
kudapat, sejak vespa ngadat sedari malam." kurang lebih, jika didramatisir,
kalimat macam itu yang ada dalam kepala. Dalam forum kami dibuat menkadi 5
kelompok (seingatku), bersama kawan-kawan baru yang tak satupun aku bisa ingat
nama mereka.
Kami mulai diberi tantangan:
Pertama, masing-masing
penghuni kelompok membuat sebuah kutipan unik. Tak ada kesulitan berarti, tapi
karena ada perasaan di ruang baru beberapa keraguan mulai timbul (ah ini sangat
personal). Selesai tantangan itu kami diberi satu tantangan lagi. Kami di
tintut membuat lagu baru dari syair Balonku. Ini menarik, kami harus membuat
lagu baru dari syair lagu yang sangat angkrab, setidaknya sejak kami masuk
Taman Kanak-kanan, tak selesai di situ, kami hanya di izinkan mengunakan tiga
cord standar.
Selesai tantangan
"Balonku", kami bertukar kutipan dengan kelompok lain, ya, kutipan
yang sebelumnya kami sudah tulis. Kembali kami harus membuat lagu dari kutipan
yang dititipkan teman dari kelompok lain itu.
Hal ini yang tidak
terbayangkan sebelumnya. Membuat karya dengan orang asing. Cukup menarik.
Membuat karya bersama teman dekat, teman satu band hal yang lumrah terjadi,
tapi membuat karya dengan 4 orang yang baru di jumpai, bahkan namanya pun belum
bisa kuingat adalah hal baru dan memacu adrenalin. Ah ... Dasar bakat bersama
kawan-kawan yang cukup andal,tantangan kedua bisa di lewati. Dan cukup
menghibur diri kami sendiri, setidaknya.
Dalam proses ini, ada
kesadaran lain kudapat. Terlebih soal istilah back to zero yang kerap aku
dengar bertahun-tahun lalu ketika mulai mengakrabi teater. Memasuki ceruk baru,
orang-orang baru, dan tantangan baru dalam dunia yang kadang masih terasa
asing.
Satu lagi hal besar yg
diingatkan oleh mentor (kang Panji): menjemput mood. Mungkin benar, cukuplah
mereka yang hidup di zaman romatik yg menulis (berkarya) menunggu ilham atau
wangsit turun dari langit. Momen puitil bisa dikejar atau bahkan diciptakan. Ya
semoga hal ini bisa sangat kami terapkan dalam proses kreatif kami.
*
Sebelum berakhir, mang Daus
dan Pak Egi memberikan semisal tausiah. Ketololan yg kulakukan adalah tak terlalu
memerhatikan mereka. Tak banyak yg bisa kuceritakan ulang. Tapi semua energi
baik ditularkan hari itu.
Aku kira, kedua teman saya di
Bob Anwar harusnya menyesal, melewatkan forum hari itu. Percakapan bersama
Jundung dalam perjalanan pulang membuat sudut pandang dan beberapa hala yg
melengkapi kebahagian hari itu.
Ariiibaaa ...
*maafkan aku ya, banyak salah tiknya
*maafkan aku ya, banyak salah tiknya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar