Selasa, 13 Agustus 2019

Jim Morrison, kenapa harus dia?

Lantas kenapa harus Jim Morrison? Sebenarnya bukan apa-apa, tapi, siapa yang gak tahu Jim Morrison, berarti dia memang tidak pernah mengenalnya. Iya, aku juga. Mana mungkin bisa kenal, dia mati tahun '70an, lebih dari 20 tahuan sebelum aku bisa membedakan musik metal dan rock. Jauh sebelum akhirnya aku kenal Powerrangger. Yang lebih mustahil kita kenal dia lahir di Amerika. Mungkin hanya orang-orang yang kebetulan saja bisa mendengarkan musik-musik dari band The Doors, kemudian mulai penasaran personelnya, sampai seolah-olah mereka bisa mengenal (dari berita), terlebih soal Jimbo (baca: Jim Morrison) sebagai frontman sekaligus ikon dari band tersebut.

Tapi ini serius. Secara sederhana, Jimbo seolah begitu mudah "meracun" banyak remaja di belahan dunia, termasuk indonesia sejak kemunculannya bersama The Doors kala itu. Bahkan sampai sekarang setelah dia meninggal. Mungkin lain waktu akan aku ceritakan lebih jauh tentang The Doors, kalau sudah mumpuni. Jangan sampai aku membodohi kamu, bisa saja sebenarnya aku mulai dengan improfisasi di sana-sini, tapi ada solusi lebih bijak untuk kamu mengenal The Doors dan sang frontman, kamu bisa nonton langsung filmya: The Doors: When are you stangger, tahun 1991 mungkin akan mempermudah. Ini trailer-nya : https://www.youtube.com/watch?v=IERQmR2qESU

Baiklah kembali lagi, Aku sendiri mulai ngeuh doi (Jimbo) sejak melihat poster berukuran kurang lebih 80x120 cm di kamar salah satu Om-ku. Ini poster yang aku lihat tiapkali mampir ke rumah nenek dan masuk kamar om-ku yang satu itu:



Beranjak diakhir sekolah dasar mulai aku akrab dengan lagu-lagunya. Setidaknya lagu-lagu semisal light my fire, the end, atau crazy frog sambil lalu sering kunikmati jika kebetulan sedang diputar Mpah (bapakku) lewat VCD bajakan yang dibeli dari sales dor to dor

Baiklah ini pengakuan dosa; Sebenarnya apa yang aku tulis di atas hanya pengantar untuk masalah yang ingin kubawa. Masalahnya adalah aku menulis puisi untuk Jimbo 2 tahun lalu. bukan sombong, tapi ini sebab dia (jimbo) memang mengganguku setidaknya sejak 2-3 tahaun lalu. Puisi itu sempat dimuatkan oleh Buruan.co bersama beberapa puisi lain yang serupa. 

Nah ... kali ini kumuat ulang utuh puisinya, semoga menyenangkan. Kalau perlu, caci-maki juga boleh, tapi jangan kasar-kasar, kadang aku baperan. Begitu saja pengantarnya semoga menggairahkan.


Kabar buat Jimbo

Yeaah… This is the end, my only friend, the end

Baiklah,
Kita memang asing Jim.
puisi adalah kenangan
mengepung kita
di tengah mesin-mesin penghancur,
juga berita alat kecantikan

Aku menerkamu dari jejak kaki kadal-kadal pasrah
kehilangan siapa yang harus mereka dengar
sebagai raja atau pria berlidah naga
yang ingin membangun agama
dari sebuah pintu pengetahuan

Apa di sana kau temukan heroin?
atau malah merasa asing Jim?

Gadis-gadis yang dulu rela menciummu
kini berganti rupa dan bisa saja lebih gila
begitu terjebak dalam hutan
pinggiran kota purba

Sisa-sisa suaramu masih bergaung
menjadi ular raksasa sepanjang 7 mil
dengan kulit begitu dingin
melilit halusinasi orang asing di tanah yang kering

“Lihat, seorang ayah mampus
dicabik serigala yang tumbuh di kepala anaknya”

Ini telah berakhir Jim
sungguh sebuah akhir
beruntunglah kau menyerah lebih awal
jika tidak, kau hanya semakin tua dan nahas
dan kita benar-benar tak saling mengenal

2017-2018

Puisi ini sempat aku bacakan (sebelum mengalami sedikit editan) diiringi Om Trisno yang juga ngefans sama Jimbo monggo: https://www.youtube.com/watch?v=v7dSKBq4SXM

 *(maaf kalau banyak typo)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar