Baiklah
Beberapa kali waktu lalu, cukup rajin kuangkat puisi-puisi lama dan editan baru. Kali ini tidak. kali ini
ada sesuatu, semacam racauan atau apalah itu. ya ... anggap saja ketelebelce. Jadi begini:
Jika saja kamu tahu, bagaimana rasanya menahan rindu pada jarak paling dekat. Tentu ini perihal
Rindu kangen atau perasaan dan kata sepadan lainnya. rin.du : 1. a sangat ingin dan berharap benar terhadap sesuatu; 2. a memiliki keinginan yang kuat untuk bertemu; begitulah definisi dari kata rindu menurut kamus.
Yang bagiku cukup menarik, pada pengertian no.2 ada bertemu, padahal secara empirik dalam beberapa konteks dan peristiwa tertentu pertemuan tak melulu dapat membayar rindu. Bajingan memang, lantas apa yang bisa membayar ridu jika kata Om Eka, rindu itu sama halnya dengan dendam yang harus dibayar tuntas (red, Novel- Seperti Dendam Rindu, Harus Dibayar Tuntas).
Banyak statement, dalam kutipan-kutipan yang menjadikan kerinduan sebagai objeknya. Yang paling popular dalam 2-3 tahun ini ya... apa kata Dilan: "jangan Rindu berat, biar aku saja". Kalimat Dilan yang ditulis Pidi Baiq itu sudah bertransformasi jadi banyak hal, bahkan bertebaran menjadi iklan komersial, mulai dari produk coklat sampai Meme di medsos.
"Apabila aku dalam kangen dan sepi/Itulah berarti/aku tungku tanpa api." begitulah Alm. Rendra menggambarkan rasa rindu dalam salah satu bait puisinya. Mungkin sebegitu membuat tak berdayanya perasaan rindu/Kangen. Tungku tanpa api cuma benda yang dalam keadaan tidak termanfaatkan, tercerabut dari fungsinya. hmmmpt.
Dalam banyak fiksi (atau mungkin realitas) rindu juga menjadi sumber dari kematian atau malah kehidupan. kita dapat memilih kalau saja mengambil analogi klasik rindu sebagi dua mata pisau yang aman yang akan menebas kita.
Geuleuh sih pake analogi itu tapi ya sudah biar heroik. gak juga ya ,,, hmmft
Baiklah kita akan menganggap sejak tahun-tahun yang gak kita kenal kerinduan menjadi salah satu
masalah yang selalu hinggap. Tak kenal waktu, jabatan, dan status sosial. Entah itu soal asmara, cinta, atau semua hal yang bukan hal besar semua menjadi masalah yang seakan berat dan memang begitu adanya.
Dan apa jadinya keadaaan Rindu itu menjadi nyata ada di depan mata, dengan hal yang secara jasadiah memiliki jarak yang cukup dekat, dan perjumpaan belum tentu menjadi obatnya. Tak ada yang pasti, tapi berbagai alasan bisa hinggap untuk merespon kerinduan itu. hal paling standar berpura-pura baik-baik saja .
Cukup saja percaya, bahkan kita dalam keadan tidak baik-baik saja
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar