Aku Senang Mengingatnya
Jika
tiba-taba kamu tak sendiri, aku harap kamu bisa
ingat
bagaimana
Bernard si beruang tertawa
dan
aku selalu malu melihat wajahku di langit-matamu
Dan jika akhirnya
waktu, mengantar kita pada kemungkinan lain
jarak menjadi anak nakal, melempar batu lebih jauh dari usia
pertemuan
aku
pastikan kepala ini adalah kayu
Siap menjadi zirat berukir namamu
tempat ziarah
segala ingatan
Kamu boleh menyanggahnya
Jika saat ini aku bilang:
kita adalah anak domba yang dilepas mencari suaka,
padang rumput dengan
telaga di tengah kota
ketika gamang dan cuaca
dikawinkan
beranak kemacetan di setiap
jalan Bandung Utara
Maka tidak usah heran, suatu
waktu kita membutuhkan seseorang
sebagai gembala atau sekadar
teman makan siang
sabar mendengar segala kisah,
ketika lelah tak bisa ditahan
memaksa kita ingin benar lupa
ingatan
Baiklah
tapi
aku begitu mengingatmu, sebagai gadis jelita
dengan
sayap kunang-kunang membawa boneka beruang
dan
sebungkus rokok bertulis doa kebahagiaan
Dan
aku senang mengingatnya
bahkan ketika namamu sepadan sepi yang
harus aku ditinggali
dengan
segelas kopi
Untuk si Jelita
Semoga
kamu berkenan
ketika
aku membuat kemungkinan:
Ada
hari dimana gelap kita tegak dari gelas
membakar
rokok kemudian menulis harapan
di suatu
sore yang kamu suka
Katakanlah,
aku sempat melupakanmu dalam daftar doa-doa
sementara
pada ruang lain kamu sering mencandai sepi
Sebab
diatas meja, boneka-boneka susah diajak bergurau
juga
hantu-hantu masa lalu, penunggu kamar yang susah bubar
dari sunyi laci ingatan, kamu temukan
namaku hampir jadi batu
Mungkin
cukup lama kita terjebak masa silam
kepahitan
dari dogma tentang kasih sayang
Tapi
aku percaya, jika kenangan adalah sampah yang lupa dikuburkan
maka
harus kita olah menjadi pupuk di ladang kelak
memberi
harap, ada hari dimana kita panen berkarung senyuman
Kini
aku menjelma kanak-kanak
meloncat-berlari
pada bayang diladang milik sendiri
Mengaji
namamu dari mimpi yang kerap mampir
setelah
senyum sering kamu kirim begitu pagi menyapa hari
Seperti
kata Edwar:
jatuh
cinta ada kalanya mendarat pada pengakuan
bukan
hanya pada penerimaan atau penolakan
Bagaimana menurutmu?
Aku
coba meyakinkan
waktu
mempertemukan kita
bukan
untuk mengisi gelas dengan air mata
atau
ketakutan
Tapi juga kemungkinan baik dan kebahagiaan
Seekor Capung dan Aku
Seekor
capung singgah di kamarku malam itu
di
luar hujan deras, petir semisal mata lampu
di
ujung gang, ketika sepasang kekasih
menggagalkan
ciuman untuk merayakan perpisahan
Sementara
di kamar, kesendirian kekal jadi cat pudar
Aku
dan capung itu tak saling sapa
tentu
saja, bahasa kerap tak sampai
hanya
dengan kedip mata
lambai
sayap, atau airmata
Warna
darah di tubuhnya menusuk mata yang lelah
Ia
kerap terbang landai
rapuh
sayapnya menyentuh dingin dinding kamar
mungkin
meminta jawab:
Dimana bisa aku temukan pulang?
Akhirnya
dia lelah terbang-mengambang
memilih
hinggap di puisi
menjadi
kata-kata yang mungkin lebih mampu terbang
dan
menemukan jalan pulang
Ia mencari
jalan pergi dari sini
aku
tengah menyusun jalan, sebab lelah
ingin
jauh dari sepi
Di dalam Sajak
Di
dalam sajak aku temukan kata-kata bertengkar
Aku
temukan namamu
aku
temukan cinta yang ragu
aku
temukan telaga dari tetes luka
Mungkin
karena lelah
tak kutemukan
frasa seranum senyummu
tak
paham apa yang kamu maksud
Tunggu
di
dalam sajak, kini aku temukan airmata
Tubuhku
basah
hujan
tak bisa dicegah oleh kata bahkan mantra
mungkin
malam juga marah
dan
awan serupa matamu
bisa
pecah kapan saja
Menghanyutkan
sajak-sajak
beserta
hasrat di dalamnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar