Senin, 20 September 2021

Puisi Cinta yang Tendensius

 Aku Senang Mengingatnya

 

Jika tiba-taba kamu tak sendiri, aku harap kamu bisa ingat

bagaimana Bernard si beruang tertawa

dan aku selalu malu melihat wajahku di langit-matamu

 

Dan jika akhirnya waktu, mengantar kita pada kemungkinan lain

jarak menjadi anak nakal, melempar batu lebih jauh dari usia pertemuan

aku pastikan kepala ini adalah kayu

 

Siap menjadi zirat berukir namamu

tempat ziarah segala ingatan

 

Kamu boleh menyanggahnya

 

Jika saat ini aku bilang:

kita adalah anak domba yang dilepas mencari suaka,

padang rumput dengan telaga di tengah kota

ketika gamang dan cuaca dikawinkan

beranak kemacetan di setiap jalan Bandung Utara

 

Maka tidak usah heran, suatu waktu kita membutuhkan seseorang

sebagai gembala atau sekadar teman makan siang

sabar mendengar segala kisah, ketika lelah tak bisa ditahan

memaksa kita ingin benar lupa ingatan

 

Baiklah

tapi aku begitu mengingatmu, sebagai gadis jelita

dengan sayap kunang-kunang membawa boneka beruang

dan sebungkus rokok bertulis doa kebahagiaan

 

Dan aku senang mengingatnya

bahkan ketika namamu sepadan sepi yang harus aku ditinggali

dengan segelas kopi

 2018


Untuk si Jelita

 

Semoga kamu berkenan

ketika aku membuat kemungkinan:

 

Ada hari dimana gelap kita tegak dari gelas

membakar rokok kemudian menulis harapan

di suatu sore yang kamu suka

 

Katakanlah, aku sempat melupakanmu dalam daftar doa-doa

sementara pada ruang lain kamu sering mencandai sepi

 

Sebab diatas meja, boneka-boneka susah diajak bergurau

juga hantu-hantu masa lalu, penunggu kamar yang susah bubar

 

dari sunyi laci ingatan, kamu temukan namaku hampir jadi batu 

 

Mungkin cukup lama kita terjebak masa silam

kepahitan dari dogma tentang kasih sayang

 

Tapi aku percaya, jika kenangan adalah sampah yang lupa dikuburkan

maka harus kita olah menjadi pupuk di ladang kelak

memberi harap, ada hari dimana kita panen berkarung senyuman

 

Kini aku menjelma kanak-kanak

meloncat-berlari pada bayang diladang milik sendiri

 

Mengaji namamu dari mimpi yang kerap mampir

setelah senyum sering kamu kirim begitu pagi menyapa hari

 

Seperti kata Edwar:

jatuh cinta ada kalanya mendarat pada pengakuan

bukan hanya pada penerimaan atau penolakan

 

Bagaimana menurutmu?

 

Aku coba meyakinkan

waktu mempertemukan kita

bukan untuk mengisi gelas dengan air mata

atau ketakutan

 

Tapi  juga kemungkinan baik dan kebahagiaan

 2018


 

Seekor Capung dan Aku

 

Seekor capung singgah di kamarku malam itu

di luar hujan deras, petir semisal mata lampu

di ujung gang, ketika sepasang kekasih

menggagalkan ciuman untuk merayakan perpisahan

 

Sementara di kamar, kesendirian kekal jadi cat pudar

 

Aku dan capung itu tak saling sapa

tentu saja, bahasa kerap tak sampai

hanya dengan kedip mata

lambai sayap, atau airmata

 

Warna darah di tubuhnya menusuk mata yang lelah

 

Ia kerap terbang landai

rapuh sayapnya menyentuh dingin dinding kamar

mungkin meminta jawab:

 

Dimana bisa aku temukan pulang?

 

Akhirnya dia lelah terbang-mengambang

memilih hinggap di puisi

menjadi kata-kata yang mungkin lebih mampu terbang

dan menemukan jalan pulang

 

Ia mencari jalan pergi dari sini

aku tengah menyusun jalan, sebab lelah

 

ingin jauh dari sepi

 2017


Di dalam Sajak

 

Di dalam sajak aku temukan kata-kata bertengkar

 

Aku temukan namamu

aku temukan cinta yang ragu

aku temukan telaga dari tetes luka

 

Mungkin karena lelah

tak kutemukan frasa seranum senyummu

tak paham apa yang kamu maksud

 

Tunggu

di dalam sajak, kini aku temukan airmata

 

Tubuhku basah

hujan tak bisa dicegah oleh kata bahkan mantra

mungkin malam juga marah

dan awan serupa matamu

bisa pecah kapan saja

 

Menghanyutkan sajak-sajak

beserta hasrat di dalamnya

 2017



Tidak ada komentar:

Posting Komentar